JawaPos.com - Psikolog Universitas Paramadina Muhammad Iqbal menyatakan bahwa kontrol diri, kematangan emosi, dan tekanan hidup menjadi tiga faktor yang perlu didalami untuk mengungkap motif di balik pembunuhan sadis Dini Hardiyanti, 30, dan anaknya berinisial AGEF, 4, di Madiun.
Pelaku yang diduga merupakan suami siri Dini, Dwi Bagus Martono (DBM), disebut membakar, memotong, hingga menggiling bagian tubuh korban untuk menghilangkan jejak kejahatan.
Iqbal menilai kekejaman tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kecenderungan sadisme. Tindakan ekstrem itu juga bisa berkaitan dengan upaya pelaku menyembunyikan identitas korban, menghilangkan barang bukti, atau menghindari konsekuensi hukum.
“Kalau dilihat dari kronologis kasus ini maka faktor kontrol diri, kematangan emosi dan tekanan hidup menjadi faktor penting berbanding motif lainnya,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (29/10).
Menurut Iqbal, ada tiga kemungkinan faktor psikologis yang perlu didalami untuk memahami motif pembunuhan. Namun, kepastiannya tetap membutuhkan pemeriksaan psikologi forensik terhadap pelaku.
Pertama, kontrol diri dan kematangan emosi. Konflik yang dipicu kecemburuan diduga menjadi awal pembunuhan. Dalam psikologi kriminal, kekerasan dapat muncul sebagai respons terhadap kemarahan atau frustrasi. Namun, ledakan emosi tidak otomatis menjelaskan tindakan lanjutan yang berpotensi melibatkan perencanaan.
Iqbal menjelaskan, tekanan dan konflik memang dapat meningkatkan risiko perilaku menyimpang, tetapi tidak otomatis membuat seseorang melakukan pembunuhan. Kemampuan mengendalikan emosi, kontrol diri, dan nilai moral turut menentukan bagaimana seseorang merespons persoalan.
Kedua, tekanan hidup dan persoalan relasi. Iqbal menduga kondisi perkawinan siri yang dijalani secara diam-diam berpotensi menimbulkan tekanan psikologis maupun ekonomi. Beban membiayai dua rumah tangga, jika memang terjadi, juga perlu didalami sebagai bagian dari latar belakang kasus.
Selain itu, kecemburuan yang diduga memicu pertengkaran antara pelaku dan korban perlu ditelusuri lebih lanjut. Iqbal juga menilai kemungkinan persoalan cicilan, pinjaman daring, hingga judi online patut diperiksa, meskipun belum ada informasi yang memastikan faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kasus ini.
Ketiga, dugaan upaya menghilangkan jejak. Iqbal menilai mutilasi dan penghancuran tubuh korban tidak bisa langsung disimpulkan sebagai tindakan sadistis untuk memperoleh kepuasan dari penderitaan orang lain.