Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Puan Soroti Bocah Difabel Tewas Dibully, Minta Perlindungan Anak Dievaluasi

Ketua DPR Puan Maharani soroti kasus perundungan anak difabel yang meninggal di Surabaya. Ia minta evaluasi kebijakan perlindungan anak.

Detik 2 menit baca 0 komentar
Puan Soroti Bocah Difabel Tewas Dibully, Minta Perlindungan Anak Dievaluasi
Foto: Detik

Jakarta -

Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kasus perundungan dan penganiayaan terhadap anak difabel berusia 10 tahun, Zulkarnain Abdil Aziz, hingga meninggal dunia di Surabaya. Ia meminta adanya evaluasi kebijakan terkait perlindungan anak.

"Kematian seorang anak berkebutuhan khusus di Surabaya, menjadi pengingat serius bahwa perlindungan anak harus hadir hingga ke lingkungan tempat tinggal," kata Puan dalam keterangannya, Rabu (20/10/2026).

Puan mengatakan perlu ada evaluasi menyeluruh untuk pencegahan perundungan. Ia menyebut pendampingan terhadap anak dibutuhkan ketika menemukan tanda-tanda kekerasan.

"Anak dengan disabilitas mungkin menghadapi hambatan untuk berkomunikasi, meminta pertolongan, atau menjelaskan kekerasan yang dialaminya. Karena itu, perlindungan mereka membutuhkan perhatian khusus dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah," kata Puan.

"Perlu ada evaluasi menyeluruh mengenai pencegahan perundungan, mekanisme pelaporan, pendampingan anak, dan respons cepat ketika ditemukan tanda-tanda kekerasan," tambahnya.

Ia juga menyoroti kasus perundungan anak SD di Pemalang hingga meninggal dunia. Ia menyebut evaluasi kebijakan perlindungan terhadap anak mesti menjadi atensi serius.

"Semakin maraknya kasus bullying yang melibatkan kekerasan pada anak menuntut adanya evaluasi kebijakan perlindungan sosial, perlindungan perempuan dan anak, serta layanan bagi penyandang disabilitas sesuai lingkup kewenangannya," kata Puan.

Ketua DPP PDIP ini juga mendorong evaluasi terhadap ketersediaan layanan pengaduan yang mudah diakses. Selain itu, tambahnya, diperlukan penguatan pendampingan psikologis dan mekanisme respons cepat di tingkat kelurahan maupun kecamatan.

"Apabila ditemukan kekurangan dalam pelaksanaan program, pemerintah perlu menyampaikan langkah perbaikan beserta target dan jadwal pelaksanaannya," kata Puan.

"Keluarga dan pendamping perlu memperoleh informasi mengenai cara mengenali tanda kekerasan, membangun komunikasi yang sesuai, dan mengakses bantuan profesional," tambahnya.

Diketahui, seorang anak penyandang disabilitas di Surabaya meninggal dunia karena diduga jadi korban bully atau perundungan. Pelaku perundungan yang masih berusia 10 dan 8 tahun itu merupakan anak tetangga korban.

Penelusuran detikJatim, kejadian keji itu terjadi di Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya. Korban diketahui bernama Zulkarnain Abdil Aziz (10) anak kedua dari pasangan suami istri Selaras Abdul dan Nurul Fadilah.

Laras menyebut kejadian tragis yang menimpa anaknya terjadi pada 12 September 2026 di depan rumah. Saat itu sekitar pukul 09.20 WIB istrinya pulang dan mendapati korban dalam kondisi membiru serta terjatuh dari kursi rodanya.

Menurut Laras, selain wajah membiru, sebuah tali sepatu juga ditemukan menjerat leher anaknya yang mengalami keterbatasan itu. Tali itu kemudian dilepas oleh laras.

"Habis itu saya ambil tali sepatunya. Saya kendorin," katanya.

Karena masih bernapas, Laras kemudian meminta bantuan warga dan membawa anaknya ke RSUD Eka Candrarini. Namun, nasib bertakat lain, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

(dwr/zap)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.