JawaPos.com – Rektor baru Universitas Lambung Mangkurat (ULM) periode 2026–2030, Iwan Aflani, menghadapi sejumlah tantangan dalam pembenahan kampus, mulai dari persoalan tata kelola dan bentrokan jadwal kuliah hingga banjir musiman. Sejumlah langkah disiapkan, termasuk perbaikan sistem digital perkuliahan dan pembangunan embung untuk menampung air.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya ULM meningkatkan daya saing dan mengejar pengakuan internasional.
Dia mengatakan, ULM akan mengevaluasi relevansi program studi dengan kebutuhan zaman. Evaluasi itu juga membuka peluang penggabungan atau merger program studi serumpun.
Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terkait pembatasan pembukaan program studi baru. Iwan menyatakan akan mengikuti kebijakan kementerian dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan tinggi.
"Semboyan kami dalam kepemimpinan hari ini adalah Think, Act, and Impact. Berpikir kritis berdasarkan data, berbuat dengan integritas, dan menghasilkan dampak yang bisa diukur secara nyata," kata Iwan dalam dialog interaktif di sebuah stasiun radio di Banjarmasin, Senin (12/10).
Selain penataan program studi, ULM berupaya memperbaiki komunikasi dan koordinasi internal. Iwan menginisiasi pertemuan rutin setiap Senin melalui agenda coffee morning bersama para wakil rektor dan kepala biro. Rapat pimpinan juga akan melibatkan dekan serta pimpinan lembaga di lingkungan kampus.
Pembenahan tersebut diharapkan dapat membantu menyelesaikan persoalan operasional kampus, termasuk keluhan mahasiswa mengenai bentrokan jadwal penggunaan ruang kuliah di fakultas dengan aktivitas perkuliahan padat, seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
ULM juga akan mengoptimalkan sistem digital kampus, termasuk SIMARI dan SIMS, untuk mendukung pengelolaan jadwal perkuliahan yang lebih transparan.
Di sisi infrastruktur, Iwan menyoroti persoalan banjir musiman yang mengganggu lingkungan kampus. Salah satu rencana yang disiapkan adalah pembangunan embung untuk menampung air, terutama di kawasan belakang kampus yang berdekatan dengan Sungai Kidaung.