JawaPos.com - Langkah Presiden Prabowo Subianto yang kembali melakukan perombakan (reshuffle) kabinet dinilai sebagai sinyal kuat konsolidasi kekuasaan sekaligus upaya melepaskan diri dari bayang-bayang presiden sebelumnya.
Reshuffle kali ini diwarnai pergantian posisi strategis, mulai dari jabatan Kapolri dari Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo kepada Komjen Suyudi Ario Setyo, hingga reposisi menteri koordinator.
Listyo Sigit selanjutnya digeser menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) menggantikan Jenderal (TNI) Dudung Abdurachman yang kini menjabat Menko Polhukam.
Baca Juga: Jenderal Sigit Serahkan Panji-Panji Polri Tribrata kepada Kapolri Suyudi
Sementara itu, posisi Menko PMK yang sebelumnya diisi Pratikno kini diserahkan kepada politikus yang dekat Prabowo, Sugiono.
Direktur Eksekutif Arah Institute Sunardi Panjaitan menilai, pergeseran figur-figur kunci ini menegaskan arah politik baru dalam pemerintahan Kabinet Merah Putih jelang memanasnya suhu politik.
”Digantinya Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Menko PMK Pratikno adalah sinyal bahwa hubungan Prabowo dengan era presiden sebelumnya,” ujar Sunardi.
Baca Juga: Syahganda Jadi Kepala Bakom RI, Siapkan Strategi Komunikasi Pemerintah Berbasis AI
Mengenai pengangkatan Listyo Sigit sebagai KSP, Sunardi menganalisis langkah tersebut diambil untuk mengakomodasi masa pensiun mantan Kapolri itu yang baru berakhir pada 2029.
”Di tubuh Polri tidak mungkin ada dua jenderal bintang empat aktif secara bersamaan. Salah satunya harus ditempatkan di luar struktur Polri,” jelas Sunardi.
Sunardi memprediksi pasca reshuffle, kerenggangan hubungan antara Prabowo dan Jokowi akan makin berlanjut.