Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Santri Tak Cuma Soal Sarung dan Kitab Kuning

Santri masa kini tak hanya belajar agama, tetapi juga mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan zaman.

Liputan 6 6 menit baca 0 komentar
Santri Tak Cuma Soal Sarung dan Kitab Kuning
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Sarung, peci, kitab kuning, dan rutinitas mengaji masih menjadi gambaran yang lekat ketika orang membicarakan santri. Gambaran itu memang menjadi bagian dari kehidupan pesantren. Namun, jika santri hanya dilihat dari hal-hal tersebut, ada banyak sisi kehidupan mereka yang luput dari perhatian.

Di tengah dunia yang terus berubah, santri juga menghadapi tuntutan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan di luar lingkungan pondok.

Ilmu agama tetap menjadi bekal utama, tetapi keterampilan lain semakin dibutuhkan ketika mereka memasuki dunia kerja, membangun usaha, atau mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Jumlah pesantren yang mencapai puluhan ribu menunjukkan besarnya peran lembaga ini dalam pendidikan di Indonesia. Kementerian Agama mencatat sekitar 42.391 pesantren pada 2026. Dalam pemutakhiran data yang masih berlangsung, sebanyak 4,63 juta santri telah terverifikasi berdasarkan nama dan alamat. Angka santri tersebut belum mencerminkan keseluruhan populasi nasional karena proses pendataan masih berjalan. 

Besarnya jumlah itu membuat tantangan pesantren tak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi pendidikan agama, tetapi juga menyiapkan santri menghadapi perubahan zaman. Mereka perlu memiliki bekal untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, membangun usaha, dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Hafiz, santri Pesantren Buntet, yang sebagian sistem pengajarannya masih bergaya salaf (tradisional) melihat masih adanya anggapan bahwa kehidupan santri hanya berkutat pada pelajaran agama.

“Masih ada anggapan bahwa santri itu hanya belajar agama, membaca kitab kuning, mengaji. ujung-ujungnya nantinya menjadi ustaz atau kiai,” kata Hafiz saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (22/10/2026).

Menurut dia, pandangan tersebut belum menggambarkan potensi santri secara utuh. Menurutnya banyak ilmu-ilmu praktis, sosial bahkan sains yang dijuga dipelajari di pesantren. 

“Di pesantren juga belajar soal ilmu-ilmu logika, filsafat. Ada namanya mantiq, ilmu tentang kaidah berpikir yang menjaga akal agar tidak salah dalam menarik kesimpulan atau berlogika. Ada ilmu Falak, ,mempelajari pergerakan benda-benda langit, sistem tata surya, serta geometri bola langit. Jadi tidak hanya fiqh dan hal-hal agama saja," kata dia.  

Bagi Hafiz, mendalami ilmu agama tidak berarti menutup diri dari pengetahuan lain. Santri tetap bisa memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan tanpa harus meninggalkan pendidikan yang menjadi dasar kehidupan mereka di pesantren.

“Belajar agama menjadi fokus utama kami, tetapi bukan berarti wawasan kami terbatas.”

Pandangan itu menjadi penting ketika santri harus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah lulus.

Mereka tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.

 

Belajar Mandiri, Menemukan Kemampuan Diri

Kehidupan di pesantren tidak selalu mudah, terutama bagi santri yang harus tinggal jauh dari keluarga. Mereka perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mengikuti jadwal kegiatan yang padat, serta belajar mengurus berbagai kebutuhan secara mandiri.

Bagi Fakhiroh, santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1, kehidupan di pondok juga merupakan proses membentuk kebiasaan dan mengenali kemampuan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti ketika masih tinggal bersama keluarga.

Waktu harus dibagi dengan baik. Kegiatan belajar berjalan beriringan dengan berbagai kewajiban dan aktivitas lainnya. "Kalau lagi capek. Kadang suka nangis sendiri, kangen Umi, Abi, adek di rumah. Tapi selalu inget 'Man jadda wajada' (Siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil)," kata Fakhiroh dalam sambungan telepon kepada Liputan6.com.

Kemandirian menjadi salah satu hal yang dipelajari melalui keseharian tersebut. Santri perlu mengatur keperluannya sendiri, memahami aturan, dan menyesuaikan diri dengan teman-teman yang memiliki kebiasaan berbeda.

Hidup bersama juga mengajarkan pentingnya kerja sama. Ada saat ketika seseorang harus belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, atau menyelesaikan persoalan bersama.

"Pengalaman ini menjadi bagian dari pembelajaran yang berlangsung di luar pelajaran formal. Kita jadi bisa melatih diri lebih berani," kata dia.  

Kehidupan pesantren pun tidak selalu identik dengan duduk di ruang kelas atau mengikuti pengajian. Di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1, kegiatan berbahasa asing, organisasi, kepemimpinan, dan latihan berbicara di depan umum menjadi bagian dari gambaran pendidikan yang dijalani Fakhiroh.

Kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi santri untuk melatih keberanian dan kemampuan berkomunikasi.

Mengikuti organisasi, misalnya, bukan hanya soal menjalankan program kegiatan, tetapi juga belajar membagi tugas, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dipercayakan.

Begitu pula dengan kemampuan berbicara di depan umum. Keterampilan ini dapat membantu santri menyampaikan gagasan dengan lebih teratur dan percaya diri. Bekal tersebut berguna ketika mereka harus berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkungan pesantren.

 

 

 

 

Berhadapan dengan Dunia yang Terus Berubah

Kehidupan santri tidak terlepas dari perkembangan zaman. Teknologi dan arus informasi yang semakin cepat membawa banyak kesempatan untuk belajar, tetapi sekaligus menuntut kemampuan menyaring informasi dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Bagi generasi muda, tantangannya bukan sekadar bisa menggunakan perangkat digital. Mereka juga perlu memahami informasi yang diterima, membedakan fakta dan kabar yang tidak dapat dipercaya, serta menjaga etika ketika berkomunikasi.

Fakhiroh melihat kemampuan menyikapi teknologi sebagai hal yang penting. Santri perlu terbuka terhadap perkembangan di luar pesantren, tetapi tetap memiliki pertimbangan ketika menerima informasi dan menggunakan teknologi.

"Keterbukaan itu bukan berarti meninggalkan nilai-nilai yang dipelajari selama mondok. Sebaliknya, santri perlu belajar menempatkan pengetahuan dan teknologi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari," ucap dia. 

Pengalaman belajar bahasa asing, berorganisasi, dan berkomunikasi dapat menjadi bekal awal untuk menghadapi lingkungan yang lebih luas. Namun, kemampuan tersebut tetap perlu dikembangkan setelah santri menyelesaikan pendidikan.

Dunia di luar pesantren memiliki tantangan yang berbeda. Mereka akan berhadapan dengan tuntutan pendidikan lanjutan, pekerjaan, ekonomi, dan kehidupan sosial yang terus berubah. Karena itu, kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar menjadi penting.

Sementara, Hafiz menilai santri tidak seharusnya merasa cukup dengan ilmu yang sudah dipelajari selama mondok.

“Santri harus berani membuka diri dan mengambil bagian dalam persoalan masyarakat,” katanya.

Ia mengingatkan pentingnya terus menambah wawasan dan keterampilan.

“Jangan hanya merasa cukup dengan ilmu yang sudah dipelajari, tetapi terus menambah wawasan dan keterampilan.”

Bagi Hafiz, ilmu agama tetap menjadi fondasi. Namun, santri juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan masyarakat dan mengambil bagian dalam penyelesaiannya.

Ilmu Agama dan Keterampilan Lain

Hafiz melihat pesantren memiliki ruang untuk memperluas kesempatan belajar bagi para santri. Pendidikan agama tetap penting, tetapi penguasaan keterampilan lain juga dapat membantu mereka mempersiapkan masa depan.

“Pesantren juga bisa memperluas ruang bagi santri untuk belajar teknologi, kewirausahaan, komunikasi, dan berbagai bidang lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keterampilan tersebut dapat dikembangkan tanpa meninggalkan pendidikan agama.

“Dengan begitu, ketika lulus, santri memiliki bekal yang lebih lengkap.”

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.