Pyongyang -
Korea Utara (Korut) mengumumkan telah memindahkan unit-unit militer baru ke "posisi tembak" di perbatasan dengan Korea Selatan (Korsel). Pengumuman ini disampaikan saat ketegangan antara Pyongyang dan Seoul semakin meningkat buntut ledakan ranjau yang melukai tentara-tentara Korsel.
Korut sebelumnya memperingatkan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan pengerahan sarana serangan tambahan ke perbatasan dengan Korsel.
"Pimpinan militer kami menekankan perlunya menyadarkan kelompok jahat tersebut bahwa unit-unit pasukan tembak kami telah menempati posisi tembak mereka," kata Kim Yo Jong, adik pemimpin Korut Kim Jong Un, seperti dilaporkan media pemerintah Pyongyang dan dilansir AFP, Rabu (21/10/2026).
Pernyataan ini disampaikan sehari setelah Korsel memperingatkan akan adanya respons "tegas" terhadap provokasi lebih lanjut dari Korut.
Kim Yo Jong, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa Kim Jong Un telah "mengeluarkan perintah untuk memperkuat perbatasan dengan negara musuh, menjadi benteng yang tak tertembus selamanya".
Ketegangan di Semenanjung Korea meningkat tajam sejak bulan lalu, ketika Korsel menuding Korut sebagai pihak yang memasang ranjau darat yang meledak di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ), area perbatasan dengan pengamanan ketat yang memisahkan kedua Korea. Pyongyang membantah tuduhan Seoul tersebut.
Pernyataan Kim Yo Jong ini disampaikan setelah kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA), melaporkan bahwa Marsekal Pak Jong Chon dari Angkatan Bersenjata Korut telah memeriksa "posisi-posisi krusial" di perbatasan.
Marsekal Pak, menurut KCNA, menekankan kepada pasukan Korut bahwa "inilah saatnya untuk mengatur kekuatan tembak yang cukup kuat guna menebar teror ke jantung musuh".
"Jika pasukan musuh melakukan provokasi yang secara nyata mengancam keselamatan para personel militer kita... Pasukan perbatasan DPRK harus mengambil tindakan militer yang sangat mahir, terspesialisasi, dan melumpuhkan," cetusnya, menggunakan nama resmi Korut, Republik Demokratik Rakyat Korea.
Perkembangan situasi ini terjadi setelah militer Korsel, pada Selasa (20/10), menuduh Korut berupaya melimpahkan kesalahan atas meningkatnya ketegangan militer antara kedua negara.
Pada saat yang sama, Seoul mengonfirmasi pengerahan pengeras suara dan tembakan peringatan di perbatasan sebagai "langkah pertahanan yang sah untuk mencegah pasukan Korea Utara melintasi Garis Demarkasi Militer (MDL) dan memukul mundur pasukan yang telah melintasinya".
Pemimpin Kepala Staf Gabungan militer Korsel, Jin Young Sung, kemudian memerintahkan militer untuk "merespons dengan tekad yang teguh" seandainya Korut memanfaatkan langkah pertahanan Seoul itu sebagai dalih untuk melakukan agresi. Kementerian Pertahanan Korsel juga menegaskan bahwa tindakan semacam itu dari Pyongyang akan dibalas dengan hukuman yang "tegas".
(nvc/idh)