JawaPos.com - Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama menggelar Seminar dan Lokakarya Kurikulum Berbasis Cinta di Pondok Pesantren An-Nur II Buluwalang, Malang, Sabtu (3/10).
Kegiatan diikuti peserta dari unsur Pramuka Santri ini menekankan cinta alam sebagai bagian dari pembelajaran kitab kuning di pesantren.
Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Nonformal Mahrus menegaskan, kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan sesaat.
”Kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi yang terintegrasi dengan kitab kuning perlu berkelanjutan. Tidak cukup selesai di ruang seminar, tetapi harus hidup dalam pengajian sehari-hari, dalam kebiasaan santri, dan dalam tata kelola pondok,” ujar Mahrus.
Menurut Mahrus, pesantren tidak perlu mencari rujukan dari luar tradisi untuk berbicara tentang lingkungan.
”Kitab-kitab yang dikaji santri setiap hari sudah mengajarkan cara memperlakukan air, tanah, dan sesama makhluk. Tugas kita adalah memastikan nilai itu terus diajarkan dan diamalkan dari satu angkatan santri ke angkatan berikutnya,” kata Mahrus.
Narasumber semiloka, M. Faisol Fatawi, Guru Besar pada UIN Malang, memaparkan materi bertajuk Merawat Cinta dalam Setiap Halaman Kitab Kuning.
Dia menjelaskan, Kurikulum Cinta bertumpu pada Panca Cinta. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, serta cinta Tanah Air.
”Panca Cinta bukan pelajaran baru, melainkan jantung pembelajaran. Ia adalah nilai dan pendekatan yang meresapi seluruh kajian kitab kuning,” tandas Faisol.