Riyadh -
Serangan rudal ke Bandara Internasional King Khalid pada Sabtu (10/10) telah menewaskan setidaknya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya, menurut otoritas Arab Saudi.
Lanjutkan dari posisi terakhir
Banyak negara menyatakan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik antara Arab Saudi dan Houthi. Mereka menekankan mediasi.
Riyadh -
Serangan rudal ke Bandara Internasional King Khalid pada Sabtu (10/10) telah menewaskan setidaknya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya, menurut otoritas Arab Saudi.
Serangan kedua menyusul pada Minggu (11/10) dan menewaskan seorang warga Pakistan serta melukai sedikitnya 11 orang lainnya. Otoritas Saudi juga melaporkan kerusakan akibat serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam, dekat Bahrain dan Qatar.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh kini ditutup hingga 17 Oktober. Arab Saudi dilaporkan tengah menyelidiki kegagalan sistem pertahanan udaranya dalam mencegah serangan rudal tersebut. Pasalnya, sistem pertahanan udara Saudi tidak memberikan peringatan lebih dini sehingga rudal dapat menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer untuk mencapai Riyadh.
Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka memperingatkan bahwa bandara dan wilayah udara Arab Saudi merupakan "target yang sah", kecuali kota suci umat Islam, yakni Mekkah dan Madinah.
Kelompok tersebut diyakini telah meluncurkan sejumlah drone terlebih dahulu untuk membuka jalan bagi serangan rudal jelajah dan rudal balistik. Houthi sendiri merupakan bagian dari apa yang disebut Iran sebagai "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance), yakni jaringan kelompok bersenjata yang juga mencakup Hizbullah di Lebanon dan berbagai milisi Syiah di Irak.
Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman menyebut serangan Houthi telah menguji ketahanan infrastruktur dan daya tahan negaranya.
"Keamanan energi tidak bisa disepelekan," katanya. "Peristiwa dalam beberapa pekan terakhir sangat serius, dan respons kita juga harus sama seriusnya."
Turki, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi secara bersama-sama mengecam serangan itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Arab Saudi serta ancaman terhadap keselamatan warga sipil.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam kampanye militer Arab Saudi melawan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Langkah tersebut membuka kemungkinan akan keterlibatan AS yang lebih besar dalam eskalasi konflik.
China mengecam serangan tersebut dan menyatakan keprihatinannya atas eskalasi konflik antara Arab Saudi dan Houthi.
"China mengecam serangan yang telah menyebabkan banyak korban jiwa dan menyampaikan keprihatinan serius atas meningkatnya intensitas konflik," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, kepada wartawan pada Senin (12/10).
Mao mendesak semua pihak untuk menghindari eskalasi lebih lanjut dan menyelesaikannya lewat dialog serta perundingan.
"Kami menyerukan kepada pihak-pihak terkait agar tidak mengambil langkah yang memperburuk ketegangan kawasan," ujarnya, seraya menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut.
Selain China, Iran turut menyatakan keprihatinannya terhadap eskalasi konflik. Iran juga menawarkan bantuan untuk memfasilitasi dialog.
"Kami sangat prihatin terhadap perkembangan yang sedang terjadi di Semenanjung Arab," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, kepada wartawan pada Senin (12/10).
Menurutnya, Teheran siap "membantu memfasilitasi dialog antara para pihak".
"Kami sama sekali tidak menginginkan permusuhan dan perang terus berlanjut antara dua negara Islam," tambah Baqaei, sambil mendorong kedua pihak menyelesaikan perselisihan melalui perundingan.
Harga minyak dunia naik US$2 (sekitar Rp35 ribu) per barel pada Senin (12/10).
Pasalnya, kelompok Houthi memicu kekhawatiran di pasar global bahwa pasokan energi bisa terus menyusut. Kekhawatiran itu juga muncul ketika perang di Ukraina dan Timur Tengah masih terus berlangsung di tengah transisi menuju musim dingin.
Trump memang telah menawarkan skema yang membuka jalan bagi Rusia untuk kembali mengekspor diesel serta mengumumkan "gencatan senjata energi" antara Ukraina dan Rusia. Namun, pasar masih meragukan realisasi kedua langkah tersebut dan efektivitasnya dalam meredakan gejolak energi global.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani
Editor: Tezar Aditya Rahman
(nvc/nvc)
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.