Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Serangan Siber Lumpuhkan Sistem Pendingin Ratusan Supermarket di Prancis

Ratusan supermarket di Prancis mengalami gangguan pada sistem pendingin setelah diretas, menyebabkan banyak makanan beku rusak.

Detik 3 menit baca 0 komentar
Serangan Siber Lumpuhkan Sistem Pendingin Ratusan Supermarket di Prancis
Foto: Detik

Paris -

Serangan siber berhasil melumpuhkan sistem pendingin ratusan supermarket di Prancis pada Senin (12/10). Serangan tersebut berlangsung dalam semalam dan mengakibatkan berbagai supermarket terpaksa membuang produk makanan beku dan segar yang mudah rusak.

Para peretas merusak persediaan makanan dengan mengendalikan sistem pendingin di gerai Cooperative U, Leclerc, Les Mousquetaires, dan Intermarche di berbagai wilayah Prancis. Mereka mencairkan ribuan unit freezer dan lemari pendingin yang digunakan untuk menyimpan produk segar dan beku.

Dalam sejumlah kasus, lemari pendingin yang terisi penuh bahkan dipanaskan hingga suhu 50 derajat Celsius selama lebih dari enam jam.

Menurut para peritel, lebih dari 400 toko terdampak serangan tersebut.

Kejaksaan Paris mengonfirmasi insiden itu dan menyatakan bahwa kebakaran juga dilaporkan terjadi di beberapa lokasi.

Leclerc mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa "serangan siber telah memengaruhi salah satu pemasok peralatan pendinginnya", yang kemudian berdampak pada operasional sistem pendingin di sejumlah gerai.

Bagaimana sistem pendingin bisa diretas?

Sistem pendingin di supermarket umumnya dioperasikan melalui panel kontrol yang mengatur seluruh lemari pendingin dan freezer di toko. Sistem tersebut dapat diakses melalui internet sehingga perusahaan dapat melakukan pengaturan dari jarak jauh.

Sistem yang menjadi sasaran serangan dilaporkan menggunakan perangkat dari pemasok asal Denmark, Danfoss. Dugaan itu juga disampaikan Perdana Menteri Sebastien Lecornu yang menyatakan telah menemukan "kerentanan pada perangkat lunak yang disediakan perusahaan Denmark dan telah menghubungi vendor terkait."

Danfoss menyatakan "mengetahui adanya insiden di Prancis yang memengaruhi sejumlah sistem manajemen pendingin yang terbatas." Perusahaan juga menambahkan bahwa perangkat yang terdampak "masih menggunakan jenis perangkat lunak versi lama."

Danfoss menyebut selama ini telah "menyarankan pelanggan untuk memperbarui sistem ke perangkat lunak terbaru serta mengganti sistem lama dengan solusi generasi terbaru."

Kantor Perdana Menteri Lecornu telah menugaskan badan keamanan siber Prancis, ANSSI, untuk menyelidiki serangan tersebut. Otoritas Prancis juga berkoordinasi dengan mitra-mitranya di Eropa karena negara lain berpotensi terdampak.

Masalah keamanan serupa turut dilaporkan di Belgia, Luksemburg, dan Belanda. Jaringan supermarket Belanda, Ahold Delhaize, menyatakan telah menonaktifkan sistem pendinginnya sebagai langkah pencegahan, meski menegaskan belum menemukan kaitan langsung dengan serangan yang terjadi di Prancis.

Felix Aime, analis senior intelijen ancaman siber di Sekoia Threat Detection and Research, menyebut bahwa Spanyol, Portugal, Polandia, dan Jerman juga telah terdampak.

Carrefour menyebut 80 gerainya terkena dampak, sementara Monoprix yang mengoperasikan sekitar 490 toko di Prancis melaporkan sekitar 5 persen gerainya juga terdampak.

Jadi ancaman untuk pasokan pangan

Hingga saat ini belum diketahui siapa pelaku di balik serangan siber tersebut. Belum ada kelompok maupun individu yang mengaku bertanggung jawab.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kerentanan sistem industri terhadap ransomware dan berbagai serangan siber, terlebih dengan adanya ancaman serangan hibrida Rusia seiring meningkatnya ketegangan perang di Ukraina.

Bulan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang selama ini merupakan pendukung kuat Ukraina, memerintahkan langkah-langkah tambahan untuk melindungi infrastruktur vital Prancis dari "serangan hibrida" Rusia.

CEO Cooperative U, Dominique Schelcher, menulis di X bahwa "serangan terhadap peralatan yang berperan penting dalam menjaga kesegaran produk dan pasokan pangan masyarakat Prancis merupakan tindakan yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya."

Belum ada perkiraan resmi mengenai total kerugian di tingkat industri. Namun, CEO Intermarche Thierry Cotillard mengatakan kepada BFM TV bahwa serangan itu dapat menyebabkan kerugian hingga "puluhan juta euro hanya dalam satu hari di seluruh Prancis."

Direktur Jenderal asosiasi ritel Eropa Eurocommerce, Christel Delberghe, menilai insiden tersebut menunjukkan pentingnya ketahanan di seluruh rantai pasok.

Sementara itu, Komisaris Uni Eropa untuk Pangan dan Pertanian, Christophe Hansen, mengecam serangan tersebut.

"Keamanan pangan memerlukan perhatian lebih besar di semua tingkatan," tulis Hansen di platform X. Ia menegaskan bahwa "eksploitasi pangan" kini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani

Editor: Tezar Aditya Rahman

(nvc/nvc)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.