Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Sering Menakut-nakuti Anak agar Menurut, Apa Dampaknya?

Anak langsung menurut saat ditakut-takuti, tetapi bagaimana dampaknya bagi perkembangan emosinya? #momsupdate #update #mom #text

Kumparan 3 menit baca 0 komentar
Sering Menakut-nakuti Anak agar Menurut, Apa Dampaknya?
Foto: Kumparan

Moms, pernahkah Anda menakut-nakuti anak agar mau menuruti perkataan orang tua? Misalnya, dengan mengatakan, “Kalau enggak nurut, Ibu tinggal, ya!”.

Cara ini mungkin membuat anak langsung patuh. Namun, kepatuhan tersebut muncul karena rasa takut, bukan karena anak memahami alasan di balik aturan.

Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa dalam psikologi perkembangan, penting membedakan kepatuhan karena takut terhadap hukuman dengan kemampuan anak mengatur perilakunya secara mandiri atau self-regulation.

“Anak yang patuh karena takut belum tentu memahami alasan di balik aturan. Jika ancaman dilakukan berulang kali, anak berisiko merasa cemas dan tidak aman,” ucap Madeline, Rabu (21/10).

Meski begitu, dampaknya tidak selalu sama pada setiap anak. Usia, temperamen, intensitas ancaman, kualitas hubungan orang tua dan anak, serta dukungan lingkungan turut memengaruhi respons anak. Teguran yang tegas juga tidak otomatis berdampak buruk. Hal yang perlu dihindari adalah pola ancaman dan intimidasi yang dilakukan berulang kali.

Pentingnya Mengajarkan Self-Regulation pada Anak

Selain itu, Madeline juga menjelaskan bahwa self-regulation merupakan kemampuan anak untuk mengenali dan mengelola emosi, mengendalikan impuls, serta mengarahkan perilakunya sesuai situasi.

Kemampuan ini berkembang secara bertahap sehingga anak masih membutuhkan bimbingan orang tua. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melatihnya, yaitu:

-Berikan pilihan terbatas

Daripada mengancam dengan mengatakan, “Kalau enggak mandi, Ibu tinggal ya!”, orang tua bisa memberikan pilihan, seperti, “Sekarang waktunya mandi. Kamu mau jalan sendiri atau Mama temani?”

-Jelaskan alasan di balik aturan

Misalnya, katakan, “Kita jalan pelan-pelan supaya tidak jatuh,” daripada, “Jangan lari, nanti Ibu marah!” Penjelasan konkret membantu anak memahami alasan di balik suatu aturan.

-Validasi emosi, tetapi tetap pertahankan batasan

Orang tua bisa mengatakan, “Kamu masih ingin bermain, ya. Ibu tahu berhenti itu tidak mudah, tetapi sekarang waktunya pulang.” Dengan cara ini, anak belajar bahwa perasaannya diterima, tetapi tidak semua keinginannya bisa dituruti.

-Terapkan konsekuensi yang logis

Jika anak menumpahkan air saat bermain, ajak ia membantu mengelapnya. Konsekuensi sebaiknya berkaitan dengan perilaku dan bertujuan mengajarkan tanggung jawab, bukan menimbulkan rasa takut.

-Apresiasi perilaku positif dan bangun rutinitas

Berikan pujian yang spesifik ketika anak berusaha mengikuti aturan. Orang tua juga bisa menggunakan timer, jadwal bergambar, atau memberikan peringatan sebelum berpindah kegiatan agar anak lebih siap menghadapi perubahan.

Anak Perlu Belajar Mengatur Perilakunya Sendiri

Jika dilakukan secara konsisten, berbagai cara tersebut dapat membantu anak belajar mengatur dirinya sendiri. Anak tidak hanya mengikuti aturan ketika orang tua mengawasi, tetapi juga mulai memahami alasan di balik aturan dan belajar mengendalikan perilakunya.

“Anak perlu belajar mengatur perilakunya bukan hanya karena ada orang tua yang mengawasi, tetapi karena mulai memahami aturan dan mampu mengendalikan dirinya sendiri,” tutup Madeline.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.