Kini, Waluyo dikenal sebagai pendiri Farda Multi Kreasi dan 369 Group yang bergerak di bidang event organizer dan event production. Usahanya menangani berbagai kebutuhan acara, mulai dari panggung, layar LED, tata suara, hingga pencahayaan.
Ada ironi kecil yang ia ingat dari perjalanan itu. Dulu, ia membantu memastikan kebutuhan listrik di lingkungan pondok terpenuhi. Sekarang, ketika menangani acara, urusan kelistrikan dan perangkat teknis tetap menjadi bagian penting pekerjaannya.
Bedanya, jika listrik bermasalah saat sebuah acara berlangsung, dampaknya bisa membuat satu ballroom panik.
Perjalanan Waluyo menunjukkan bahwa pelajaran di pesantren tidak selalu berhenti pada apa yang tertulis di buku atau disampaikan di kelas. Ada pula pengalaman mengurus pekerjaan, belajar bertanggung jawab, dan menghadapi kegagalan yang manfaatnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
“Saya bukan santri yang paling pintar dan pernah dua kali tidak naik kelas, tetapi saya bersyukur pernah mendapatkan pendidikan Gontor,” kata Waluyo saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (21/10/2026).
Ia tidak memilih menjadi ustaz setelah keluar dari pesantren. Dunia usaha justru menjadi jalan yang ingin ia tekuni.
Bagi Waluyo, keputusan itu bukan berarti meninggalkan nilai-nilai yang diperoleh selama mondok.
“Menjadi santri tidak harus berakhir sebagai ustaz. Santri dapat menjadi pengusaha, teknisi, dokter, pemimpin, atau menjalani profesi apa pun. Yang penting adalah nilai-nilai kesantrian tetap dibawa dalam menjalankan profesi tersebut,” ujarnya.
Bekal mondok di dunia kerja
Pilihan karier seperti yang dijalani Waluyo bukan satu-satunya gambaran perjalanan alumni pesantren. Zulfikri Arif, misalnya, menempuh jalur yang berbeda. Setelah belajar di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta, dan Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah, Sukabumi, ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar magister di bidang administrasi bisnis dan ilmu komunikasi.
Kariernya pun tidak berjalan dalam satu bidang saja. Zulfikri pernah bekerja di bidang pengelolaan loyalitas pelanggan atau customer relationship management (CRM), e-commerce, logistik, serta pengadaan barang dan jasa untuk kebutuhan bisnis. Ia juga pernah berdagang pakaian muslim.
Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perjalanannya membangun usaha melalui PT Solindo Duta Praga, yang bergerak di bidang penyelenggaraan acara serta pengadaan barang dan jasa. Bersama timnya, ia mendapat kepercayaan menangani berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional.
Zulfikri melihat ada sejumlah kebiasaan selama mondok yang masih terasa manfaatnya ketika berhadapan dengan pekerjaan. Kehidupan pesantren yang teratur, kegiatan organisasi, hingga latihan berbicara di depan orang lain menjadi pengalaman yang tidak selalu langsung disadari kegunaannya.
“Pendidikan di pesantren modern memberikan bekal yang sangat bermanfaat, mulai dari kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, hingga kemampuan berkomunikasi dan berorganisasi,” kata Zulfikri.
Ia merasakan manfaatnya ketika mengikuti pemilihan Abang None Jakarta pada 2014. Berawal dari seleksi di tingkat Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, ia melanjutkan ke tingkat Provinsi DKI Jakarta dan akhirnya meraih gelar Juara Abang Jakarta 2014.
Pengalaman mengikuti kegiatan Pramuka, muhadharah, pencak silat, dan teater selama mondok turut membantunya beradaptasi dengan proses seleksi dan karantina. Latihan berbicara di depan umum, misalnya, menjadi bekal saat harus tampil dan berkomunikasi dengan banyak orang.
Namun, perjalanan di dunia kerja tentu tidak selalu mulus. Menurut Zulfikri, tantangan yang cukup besar justru muncul ketika tanggung jawab bertambah dan kepercayaan orang lain harus dijaga.
“Menurut saya, salah satu tantangan terbesar adalah membangun kepercayaan dan menghadapi tanggung jawab yang semakin besar,” ujarnya.
Dalam bisnis penyelenggaraan acara, situasi bisa berubah dengan cepat. Ia harus menghadapi orang-orang dengan karakter dan ekspektasi berbeda, mengambil keputusan, serta mencari solusi ketika ada persoalan. Dalam keadaan seperti itu, kedisiplinan, kesabaran, dan kemampuan bekerja sama menjadi bekal penting.
Prinsip amanah, menurut dia, juga perlu diterapkan secara nyata dalam pekerjaan. Kepercayaan bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang cara seseorang menjalankan tanggung jawabnya.
Zulfikri mengingat salah satu mahfuzat yang dipelajari di pesantren: Al-'ilmu bilā 'amalin kasy-syajari bilā tsamarin, yang berarti ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.
“Bagi saya, ilmu akan lebih bermakna ketika bisa diterapkan dan memberikan manfaat,” katanya.
Tetap dekat dengan pesantren
Jalan yang ditempuh Hafyz Marshal juga berbeda. Alumni Gontor angkatan 2008 ini menekuni bidang komunikasi, mulai dari jurnalistik hingga hubungan masyarakat atau public relations (PR). Belakangan, ia lebih banyak terlibat dalam kegiatan filantropi.
Ketertarikannya pada pesantren bermula ketika masih kecil. Saat itu, Hafyz bersekolah di sekolah dasar negeri dan mendapat pendidikan agama dasar melalui kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) serta mengaji di masjid.
Seorang tetangga yang merupakan alumni Gontor kemudian memperlihatkan buku agenda angkatan. Dari sana, Hafyz melihat bahwa teman-teman satu angkatan di pesantren berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Bayangan memiliki banyak teman dari latar belakang berbeda membuatnya tertarik untuk mondok.
Meski begitu, menjalani kehidupan pesantren tidak langsung terasa mudah. Jauh dari orang tua pada usia sekitar 12 tahun membuatnya perlu beradaptasi. Pada tahun pertama, ia mengaku belum betah.
Seorang ustaz kemudian memberinya nasihat sederhana yang terus ia ingat.
“Kalau setahun enggak betah, coba dua tahun. Kalau dua tahun enggak betah, coba tiga tahun,” tutur Hafyz, mengingat nasihat tersebut.
Tanpa terasa, ia akhirnya menghabiskan enam tahun di Gontor. Pengalaman itu membentuk kebiasaan untuk bertahan dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Setelah lulus, Hafyz tidak memilih menjadi ustaz. Ia masuk ke dunia jurnalistik dan PR, bidang yang membuatnya banyak berhubungan dengan orang dan organisasi. Namun, hubungannya dengan pesantren tidak berhenti setelah ia meninggalkan lingkungan pondok.
Dengan latar belakang komunikasi, ia membantu sejumlah pesantren dalam urusan publikasi, hubungan media, penanganan krisis komunikasi, hingga pengelolaan acara. Menurutnya, banyak kegiatan pesantren yang sebenarnya menarik, tetapi belum diketahui masyarakat luas karena informasi hanya beredar di lingkungan internal.
“Jadi pesantren-pesantren itu harus menjadi sahabat media,” kata Hafyz.
Baginya, membantu pesantren tidak harus dilakukan dengan mengajar di kelas atau berdiri di mimbar. Pengetahuan dan pengalaman profesional juga dapat digunakan untuk membantu lembaga tempat seseorang pernah belajar.
Ia mengaku masih merasakan kedekatan emosional dengan pesantren. Ketika diminta membantu, ia seperti kembali mengingat masa-masa menjadi santri sekaligus memperbarui semangatnya.
“Pesantren itu ibarat kata setengah jiwa saya di pesantren,” ujarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Hafyz berusaha memegang nilai kejujuran, kepedulian sosial, dan pantang menyerah. Ia juga mengingat pesan dari kiainya, almarhum K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, bahwa pesantren ibarat memberikan kunci kepada alumninya. Bagaimana kunci itu digunakan menjadi tanggung jawab masing-masing.
Pesan tersebut terasa relevan ketika seorang alumni mulai menapaki kehidupan di luar pondok. Pilihan pekerjaan, lingkungan pergaulan, dan tantangan yang dihadapi bisa berbeda-beda. Bekal dari pesantren tetap perlu diterapkan dalam keputusan sehari-hari.
Jalan Alumni Tak Harus Seragam
Kisah Waluyo, Zulfikri, dan Hafyz memperlihatkan bahwa kehidupan setelah pesantren tidak selalu mengikuti satu pola. Ada yang memilih mengajar dan berdakwah, sementara yang lain menekuni dunia usaha, komunikasi, atau kegiatan sosial.
Pengalaman mondok tidak otomatis menentukan profesi seseorang, tetapi bisa menjadi bagian dari bekal ketika ia membangun jalan hidupnya sendiri.
Besarnya ekosistem pendidikan pesantren di Indonesia juga memberi gambaran tentang luasnya pengalaman yang dimiliki para santri. Dalam artikel yang diterbitkan pada 15 Oktober 2025, Kementerian Agama menyebut data per Oktober 2025 mencatat 42.391 pesantren dengan 6.267.741 santri di seluruh Indonesia.
Angka tersebut menggambarkan skala pendidikan pesantren, meski tidak merinci profesi yang dijalani para alumninya setelah lulus.
Data itu tidak menjawab berapa banyak alumni pesantren yang menjadi pengusaha, pekerja profesional, atau pegiat sosial. Namun, perjalanan tiga alumni ini menunjukkan bahwa pengalaman mondok dapat dibawa ke berbagai ruang kehidupan.
Waluyo belajar tentang tanggung jawab dari tugas di bagian diesel. Zulfikri membawa kedisiplinan dan kemampuan berorganisasi ke dunia usaha. Sementara Hafyz menggunakan keahliannya di bidang komunikasi untuk membantu pesantren menjangkau masyarakat lebih luas.
Mereka tidak menempuh jalan yang sama, tetapi punya satu kesamaan: pengalaman di pesantren tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka setelah lulus. Bagi Waluyo, menjadi santri bukan perkara profesi yang akhirnya dipilih.
“Bagi saya, menjadi santri adalah perjalanan seumur hidup,” katanya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6