Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Siloam Hospitals Mampang Tercatat dalam Peta Global Capture The Fracture

Dengan adanya predikat ini, Siloam Hospitals terus memperkuat pencegahan patah tulang. #newsupdate #update #news #text

Kumparan 5 menit baca 0 komentar
Siloam Hospitals Mampang Tercatat dalam Peta Global Capture The Fracture
Foto: Kumparan

International Osteoporosis Foundation (IOF) menyebutkan bahwa satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya. Risiko ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan osteoporosis untuk mencegah patah tulang yang dapat mengganggu mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup.

Menjawab kebutuhan tersebut, Siloam Hospitals Mampang memperkuat layanan orthopaedi terpadu melalui pengembangan Fracture Liaison Service (FLS) untuk mencegah patah tulang berulang, tujuh program skrining kesehatan tulang dan sendi, serta edukasi publik dan pemeriksaan kepadatan tulang gratis. Sebagai bagian dari pengembangan FLS, rumah sakit kini tercatat dalam Map of Best Practice Capture the Fracture® yang dikelola International Osteoporosis Foundation (IOF), dengan status New FLS (Blue Star).

Komitmen tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan “Timeless Music, Timeless Movement” pada Jumat, 30 Oktober 2026, di Fountain Atrium, Grand Indonesia, dalam rangka peringatan Hari Osteoporosis Sedunia. Ketiga inisiatif ini mencerminkan arah pengembangan Siloam Hospitals Mampang yang tidak hanya berfokus pada penanganan cedera dan operasi, tetapi juga deteksi dini, pencegahan patah tulang berikutnya, serta pemeliharaan fungsi gerak dan kualitas hidup pasien.

Mencegah Patah Tulang Kedua melalui Layanan yang Lebih Terstruktur Patah tulang akibat kerapuhan bukan sekadar kejadian yang selesai setelah tindakan medis.

Menurut IOF, seseorang yang pernah mengalami patah tulang akibat kerapuhan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami patah tulang berikutnya, terutama dalam satu hingga dua tahun setelah kejadian pertama. Karena itu, tindak lanjut pascapatah tulang menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Fracture Liaison Service (FLS) merupakan pendekatan layanan terkoordinasi untuk mengidentifikasi pasien dengan riwayat patah tulang akibat kerapuhan, mengevaluasi risiko osteoporosis, serta mengarahkan penanganan dan tindak lanjut yang sesuai.

Masuknya Siloam Hospitals Mampang dalam peta global Capture the Fracture® dengan status NEW FLS (Blue Star) menandai tahap awal pengembangan layanan tersebut sekaligus menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas praktik secara bertahap.

Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Hospital Director Siloam Hospitals Mampang, menyampaikan, “Penanganan pasien patah tulang tidak seharusnya berhenti ketika tindakan medis selesai dan pasien diperbolehkan pulang. Melalui pengembangan Fracture Liaison Service, kami ingin membangun proses tindak lanjut yang lebih terstruktur, mulai dari identifikasi pasien berisiko, evaluasi osteoporosis, hingga edukasi dan penanganan lanjutan. Tujuannya agar pasien tidak hanya pulih dari patah tulang pertama, tetapi juga mendapatkan perhatian yang tepat untuk mengurangi risiko patah tulang berikutnya.”

Osteoporosis Sering Tanpa Gejala, Deteksi Dini Perlu Diperkuat Osteoporosis kerap berkembang tanpa gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang. Pada tulang belakang, patah tulang akibat kerapuhan bahkan dapat luput dikenali karena keluhannya tidak selalu berupa nyeri berat.

dr. Dohar A.L. Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Orthopaedi Tulang Belakang Konsultan, Siloam Hospitals Mampang, mengatakan “Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala sampai seseorang mengalami patah tulang. Pada tulang belakang, tanda-tandanya bahkan bisa berupa penurunan tinggi badan atau perubahan postur yang dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Padahal, kondisi ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor risikonya dan berkonsultasi mengenai pemeriksaan yang tepat sebelum terjadi patah tulang.”

Melalui kegiatan ini, Siloam Hospitals Mampang menargetkan lebih dari 200 pengunjung untuk mendapatkan edukasi kesehatan tulang serta pemeriksaan kepadatan tulang gratis. Inisiatif ini juga sejalan dengan kampanye global IOF tahun 2026, “Build, Protect, Strengthen Your Bones for Life”, yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang sepanjang kehidupan.

Tujuh Program Skrining untuk Mendukung Mobilitas dan Kualitas Hidup Selain memperkuat pencegahan patah tulang berulang melalui FLS, Siloam Hospitals Mampang mengembangkan tujuh program skrining dan pemeriksaan untuk membantu masyarakat mengenali gangguan tulang, sendi, dan fungsi gerak lebih awal.

Program tersebut mencakup Skrining Osteoporosis, melalui pemeriksaan kepadatan tulang (BMD/Bone Mineral Density) dan konsultasi dokter orthopaedi; Skrining Osteoartritis Lutut, melalui pemeriksaan rontgen dan konsultasi dokter subspesialis panggul dan lutut, dengan opsi MRI sesuai kebutuhan klinis; Skrining Nyeri Punggung Bawah, melalui pemeriksaan rontgen, MRI lumbal, dan konsultasi dokter subspesialis tulang belakang sesuai indikasi; Skrining Nyeri Bahu, melalui pemeriksaan rontgen, USG, dan konsultasi dokter subspesialis bahu dan siku sesuai indikasi; serta Skrining Kaki dan Pergelangan Kaki, melalui pemeriksaan rontgen dan konsultasi dokter subspesialis terkait.

Dua program lainnya adalah Active Life MCU, berupa pemeriksaan kesehatan bagi individu aktif dan pegiat olahraga, serta Skrining Berbasis Komunitas, yang mencakup kegiatan skrining skoliosis dan bunion bersama mitra komunitas.

Executive Director Siloam Hospitals Mampang, Ratih Hadiwinoto, menyampaikan “Kami ingin masyarakat melihat layanan orthopaedi bukan hanya sebagai tempat untuk datang ketika mengalami cedera atau membutuhkan operasi. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan lebih awal untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi. Melalui program skrining, edukasi, dan layanan yang lebih terintegrasi, kami ingin membantu masyarakat tetap aktif dan mempertahankan kualitas hidupnya lebih lama.

Bagi kami, keberhasilan sebuah rumah sakit tidak hanya dilihat dari seberapa baik kami menangani pasien, tetapi juga dari seberapa banyak masalah kesehatan yang dapat kami bantu cegah,” ujar Ratih. Peserta kegiatan di Grand Indonesia yang memerlukan pemeriksaan lanjutan berdasarkan hasil skrining dapat diarahkan untuk berkonsultasi di Siloam Hospitals Mampang, sesuai kondisi dan kebutuhan klinis masing-masing.

Ke depan, Siloam Hospitals Mampang akan terus memperkuat layanan pencegahan patah tulang berulang, termasuk koordinasi tindak lanjut pasien dan peningkatan kualitas layanan dalam kerangka Capture the Fracture®. Upaya ini sejalan dengan komitmen Siloam International Hospitals untuk menghadirkan layanan yang tepat di setiap tahap perawatan, sehingga pasien dapat menjalani penanganan dengan lebih yakin.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.