Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Sosok Brigjen Pol Puji Santosa, Suami AKBP Netty Polwan yang Mundur dari Polri

AKBP Netty Diana mengundurkan diri dari institusi Polri. Sosok suami ikut jadi sorotan.

Liputan 6 3 menit baca 0 komentar
Sosok Brigjen Pol Puji Santosa, Suami AKBP Netty Polwan yang Mundur dari Polri
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Nama AKBP Netty Rosdiana Siagian kembali menjadi bahan perbincangan. Polisi wanita itu menyatakan mengunduran diri dari institusi Polri. Wanita kelahiran Medan tahun 1970 ini menyatakan mundur terhitung sejak 1 September 2026.

Saat mengundurkan diri, Netty mengemban jabatan sebagai Kepala Bagian Perencanaan dan Administrasi (Kabagrenmin) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

Lewat akun Instagram pribadinya, @netty_diana pada Sabtu (31/10/2026), Netty mengungkapkan alasan keputusan tersebut menyangkut prinsip dan hati nurani.

Dia menegaskan, keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan matang dan atas kemauan sendiri.

"Tidak mudah meninggalkan institusi yang pernah menjadi bagian dari hidup dan pengabdian. Namun, lebih menyakitkan jika harus bertahan dalam tatanan yang tak lagi sejalan dengan hati nurani," tulis Netty dalam unggahannya.

Ia turut menyampaikan keputusan mundur bukan berarti kehilangan keberanian, melainkan upaya mempertahankan prinsip yang telah diyakini sejak lama.

Sosok Suami

Usai menyatakan mundur dari Polri, sosok suami AKBP Netty juga menjadi sorotan. Suami AKBP Netty diketahui juga merupakan polisi aktif bernama Brigjen Pol. Puji Santosa, yakni seorang perwira tinggi Polri yang memiliki rekam jejak panjang dan berpengalaman luas di bidang Brigade Mobil (Brimob). 

Pria kelahiran Banyumas 9 Juli 1968 ini merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1993. Puji Santosa resmi menyandang pangkat jenderal bintang satu (Brigadir Jenderal Polisi) sejak 29 November 2024 saat dilantik sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi Staf Utama Operasi (Karorenmin Stamaops) Mabes Polri.

Selain itu, dirinya juga pernah menjabat sebagai Kepala Biro Operasi (Karoops) Polda Jawa Timur (2020). Kemudian pernah mengemban posisi penting di Satbrimob Polda Kalsel, Satbrimob Polda Lampung, hingga terlibat dalam Satgas Nemangkawi di Papua, yang kini berubah nama menjadi Satgas Damai Cartenz, yaitu aparat yang bertugas menumpas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, serta memulihkan situasi keamanan dari gangguan kelompok separatis tersebut. Satgas ini merupakan operasi gabungan yang dibentuk TNI dan Polri.

 

 

Mundur dengan Pertimbangan Matang

Sebelumnya AKBP Netty Rosdiana Siagian memilih mengakhiri pengabdiannya di Korps Bhayangkara. Ia menyatakan mengundurkan diri lewat unggahan di akun Instagram pribadinya pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

"Dengan ini Saya mengajukan permohonan pengunduran diri dari Dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terhitung sejak tanggal 01 September 2026," tulis Netty dalam unggahan tersebut, dikutip Senin (2/11/2026).

Netty menyebut keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan matang dan atas kemauan sendiri. Ia juga memastikan pengunduran dirinya bukan disebabkan paksaan maupun tekanan dari pihak lain.

"Keputusan ini bukan karena adanya paksaan atau tekanan dari pihak mana pun, melainkan atas pertimbangan pribadi dan keadaan yang menurut saya mengharuskan saya untuk mengakhiri masa pengabdian saya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)," jelasnya.

Ia mengungkapkan, selama bertugas sebagai anggota Polri, dirinya mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran. Netty juga memperoleh kesempatan untuk mengabdi kepada institusi dan masyarakat.

Tegaskan Tak Hilang Keberanian

Meski demikian, ia mengakui tidak mudah meninggalkan institusi yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya dan tempatnya mengabdi. Namun, menurut Netty, bertahan dalam tatanan yang tidak lagi sejalan dengan hati nurani juga menjadi pilihan yang semakin sulit dijalani.

Netty menegaskan tidak akan kehilangan keberanian dalam mengambil keputusan tersebut. Baginya, melepaskan jabatan bukan hal yang lebih menakutkan dibandingkan mengkhianati kebenaran.

"Seragam bisa ditanggalkan, jabatan bisa ditinggalkan, tetapi harga diri dan hati nurani tidak boleh diperjualbelikan. Saya memilih mundur dengan luka, daripada bertahan dengan mengorbankan prinsip," tuturnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.