JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan transformasi menyeluruh di PT PLN (Persero). Perubahan tersebut mencakup pembenahan model bisnis, peningkatan efisiensi dan produktivitas, hingga percepatan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW).
Arahan itu disampaikan Prabowo dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (14/10). Pertemuan tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, serta Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar.
Pada hari yang sama, melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) yang berlangsung Rabu malam, Suroso Isnandar resmi ditetapkan sebagai Direktur Utama PLN menggantikan Darmawan Prasodjo.
Pergantian kepemimpinan ini berlangsung di tengah tuntutan pemerintah untuk mempercepat pembenahan perusahaan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Suroso bukan sosok baru di lingkungan PLN. Kariernya di perusahaan pelat merah tersebut mencakup berbagai jabatan strategis yang berkaitan dengan pengelolaan sistem tenaga listrik, pembangkitan, penyaluran, serta pengembangan teknologi informasi.
Pada 2019–2021, Suroso dipercaya menjabat General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Sulawesi. Setelah itu, pada 2021–2022, ia memimpin PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali.
Pengalamannya berlanjut ketika ditunjuk sebagai Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi pada Direktorat Utama PLN Kantor Pusat untuk periode 2022–2023. Posisi tersebut memberinya pengalaman dalam pengelolaan infrastruktur ketenagalistrikan sekaligus mendorong transformasi digital di tubuh perusahaan.
Dari sisi pendidikan, Suroso memiliki latar belakang akademik yang sejalan dengan bidang usaha PLN. Pria kelahiran Klaten, 12 Agustus 1971, itu menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang Power System Engineering pada 1994.
Ia kemudian meraih gelar Master of Science dalam bidang Power System Engineering and Management dari University of Abertay pada 1999. Pada 2025, Suroso kembali menyelesaikan pendidikan doktor di bidang Teknik Elektro di ITB.
Selain pengalaman profesional dan pendidikan, Suroso juga mengantongi sertifikasi Qualified Risk Governance Professional (QRGP), yang berkaitan dengan kompetensi tata kelola dan manajemen risiko. Rekam jejak tersebut menjadi salah satu modal yang diharapkan dapat mendukung kepemimpinannya di perusahaan setrum nasional itu.