Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Tekan Inflasi, Pemprov Jateng Intervensi Harga Pangan dari Hulu ke Hilir

Pemerintah Jateng dan BI luncurkan gerakan pangan murah untuk stabilisasi harga dan pengendalian inflasi. Bantuan diberikan untuk petani dan masyarakat.

Detik 3 menit baca 0 komentar
Tekan Inflasi, Pemprov Jateng Intervensi Harga Pangan dari Hulu ke Hilir
Foto: Detik

Jakarta - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia (BI) setempat menggelar aksi peduli melalui gerakan pangan murah dan berbagai pemberian bantuan. Hal ini sebagai upaya intervensi menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mengendalikan inflasi.

Aksi peduli tersebut diselenggarakan di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, hari ini. Sasarannya adalah pedagang warung, katering, petani, dan masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Semarang.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan pihaknya sengaja menggandeng berbagai pihak mulai dari BI, Bulog, petani, dan lainnya untuk sama-sama menjaga stabilitas harga, menjaga inflasi, serta menjaga keterjangkauan bahan pokok.

Intervensi tersebut dilakukan mengingat beberapa bahan pokok penting seperti cabai merah dan beras yang terpantau mengalami kenaikan harga. Harga cabai merah saat ini sudah mencapai Rp80 ribu hingga Rp90 ribu.

"Kerja kolaboratif ini yang dijadikan sebagai role model, sehingga Jawa Tengah tetap menjadi provinsi yang inflasinya terkendali. Tidak hanya di Semarang tetapi juga daerah lain agar inflasi kita terjaga," kata Luthfi dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya untuk pengendalian inflasi tetapi juga mengantisipasi dampak el nino atau kekeringan. Maka dari itu juga diberikan bantuan beras, serta bantuan sarana perpipaan dan rumah burung hantu bagi petani.

Bantuan tersebut diberikan untuk menjaga produktivitas pangan di wilayah Jawa Tengah. Di mana periode Januari-Oktober 2026 tercatat produksi padi di Jawa Tengah diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 4,9 juta ton beras. Selain itu, produksi cabai sekitar 404,91 ribu ton dan bawang merah 408,76 ribu ton.

"Pola tanam petani juga disesuaikan dengan program dari Distannak. Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif dalam rangka pengendalian bahan pokok penting di wilayah kita dari hulu-hilir," ujar Luthfi.

Seorang pedagang nasi goreng Joko mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan aksi peduli dan gerakan pangan murah tersebut karena harganya terjangkau. Adanya kenaikan harga beberapa bahan pokok sangat berpengaruh dengan omzet jualan nasi goreng. Sebagai contoh, dalam dua minggu terakhir ia mengalami kesulitan karena harga cabai cukup tinggi.

"Ini baru beli cabai 3 kg. Harga cabai di pasaran terakhir beli Rp65 ribu, di sini dapat Rp45 ribu. Biasanya untuk buat sambal saya butuh 5 kg untuk satu minggu. Sangat membantu sekali," ungkap Joko.

Sementara itu, seorang pengusaha katering Dari mengaku sangat terbantu dengan adanya pasar murah. Sebagai contoh, beras yang biasanya dijual Rp14 ribu sampai Rp15 ribu di pasaran, bisa didapatkan masyarakat hanya dengan harga Rp11 ribu. Harga cabai juga diturunkan jauh sehingga sangat membantu terhadap biaya produksi kateringnya.

"Kenaikan harga bahan pokok sangat berpengaruh untuk usaha katering kami. Kalau kita naikkan harga pelanggan tidak mungkin karena pelanggan bisa lari. Jadi program ini sangat membantu. Yang berpengaruh bagi kami itu harga ayam dan beras," ujar Dari. (akn/ega)

Berita selengkapnya tentang Kunjungi

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.