Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

The Legacy Relay 2026: Dara Sarasvati Perlihatkan Surat untuk Dibaca di 2045

Dara Sarasvati membawa sebuah pesan khusus untuk Indonesia di masa depan melalui sebuah surat yang dipersiapkan untuk dibaca pada tahun 2045.

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
The Legacy Relay 2026: Dara Sarasvati Perlihatkan Surat untuk Dibaca di 2045
Foto: Jawa Pos

JawaPos.com - Artis Dara Sarasvati membawa sebuah pesan khusus untuk Indonesia di masa depan melalui sebuah surat yang dipersiapkan untuk dibaca pada tahun 2045, tepat di 100 tahun Indonesia merdeka.

Namun, ada hal menarik dari surat yang diperlihatkannya dalam acara The Legacy Relay 2026 di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta. Surat tersebut masih kosong dan belum berisi satu tulisan pun.

Bagi Dara, kekosongan itu bukan tanpa makna. Surat tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia belum sepenuhnya ditentukan. Dia pun bertanya, apa yang akan dibaca generasi pada 2045 bergantung pada tindakan, pilihan, dan warisan yang dibangun masyarakat hari ini.

Pesan itu disampaikan Dara melalui gagasan bertajuk The Spark: Jangan Menjadi Generasi Terakhir. Ia mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menikmati hasil perjuangan para pendahulu, tetapi juga mengambil peran dalam menjaga dan meneruskan nilai-nilai terbaik bangsa untuk diwarikan pada generasi selanjutnya.

"Surat ini masih kosong. Tapi ketika 2045 nanti, apa yang kira-kira akan mereka baca?" ujar Dara, mengajak para peserta merenungkan kontribusi apa yang dapat mereka tinggalkan untuk Indonesia masa depan.

Dara Sarasvati Ingatkan Warisan Kartini, Bung Hatta, dan B.J. Habibie

Dalam pemaparannya, Dara menyinggung sejumlah tokoh bangsa yang meninggalkan pengaruh besar bagi generasi setelah mereka. Misalnya R.A. Kartini yang dikenal melalui perjuangannya dalam membuka ruang bagi pendidikan dan hak perempuan. 

Bung Hatta mewariskan keteladanan tentang integritas, dan B.J. Habibie menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemandirian bangsa.

Ketiganya berasal dari zaman dan latar perjuangan yang berbeda. Namun, menurut Dara, ada satu kesamaan yang menghubungkan mereka, yakni keinginan untuk memberikan manfaat kepada orang lain, terutama generasi penerus.

Nilai tersebut, kata dia, seharusnya tidak berhenti sebagai bagian dari pelajaran sejarah. Warisan para tokoh bangsa perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang relevan dengan tantangan zaman.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.