JawaPos.com - Ustadz Felix Siauw buka suara terkait penggerebekan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an di Desa Laban, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah oleh pihak kepolisian. Menurutnya, tindakan ini benar-benar biadab.
Ustadz Felix menjelaskan, bahwa tindakan penggeledahan ini menandakan kelemahan penanganan aparat, dari bad intel, bad execution, bad communication hingga bad press. Terlebih, aparat melakukan tindakan pada dini hari dengan menyerbu pesantren yang isinya anak-anak muda dan perempuan.
“Di malam hari, jam 3 atau jam 2 katanya, dengan senjata lengkap, senjata serbuk, melakukan tindakan terorisme, nyeretin orang keluar, bahkan ada yang katanya sudah kerudungan terus kemudian disuruh memperlihatkan rambutnya. Orang-orang yang dikeluarkan dibolak-balik,” kata Ustadz Felix pada akun Instagramnya, @felix.siauw Sabtu (31/10).
Setelahnya, sejumlah orang dibawa ke Polsek Mojolaban lalu Polres Sukoharjo untuk diperiksa tanpa adanya pendampingan hukum. Felix merasa miris lantaran para santri dicari-cari kesalahannya lalu tak terbukti dan dibebaskan.
“Setelah itu, ngomong, ini ada benda tajam yang ditemukan, senjata tajam yang ditemukan, padahal cuma barang-barang olahraga kayak panah doang. Terus kemudian bilang lagi, ini pesantren nggak punya izin, biadab sih menurutku,” ungkap dia.
Dia pun menegaskan kelemahan penanganan oleh aparat yang dimaksudnya yakni mulai dari bad intel yang diartikannya bahwa aparat tidak melakukan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin.
“Intelnya nggak ada kerjaan, nggak ada gunanya. Mereka datang ke situ nggak tau siapa yang disergap, nyari-nyari juga dan nggak pasti. Dan itu tempat cewek, coba bayangin, emang nggak ada cara lain?,” ungkap dia.
Setelahnya yakni bad execution, di mana aparat datang ke ponpes dengan tim gabungan hanya untuk menggerebek satu tempat yang berisi orang-orang yang sedang belajar tahfiz, remaja, dan perempuan.
“Yang ketiga bad system, kenapa? Karena Anda nggak bisa ngukur menggunakan apa untuk aksi apa. Yang keempat bad communication, sudah gitu membela dirinya keterlaluan, udah nggak terbukti membela dirinya pakai perkara-perkara dibuat-buat,” jelasnya.
Yang terakhir adalah bad press yang menandakan apapun yang dilakukan aparat tidak bisa menutupi bahwasanya orang-orang tetap merasa muak dengan tindakan yang dilakukan.