Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Usut Jaringan Sabu 1,2 Ton di Aceh, China Kirim Tim Khusus ke Indonesia

Tim tersebut akan mengumpulkan bukti yang akan membantu penanganan perkara di negara mereka.

Liputan 6 3 menit baca 0 komentar
Usut Jaringan Sabu 1,2 Ton di Aceh, China Kirim Tim Khusus ke Indonesia
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Penyidikan temuan laboratorium sabu seberat 1,2 ton di Aceh berlanjut hingga China. Selain menangkap tujuh orang di negaranya, otoritas China telah mengirim tim khusus ke Banda Aceh untuk mengumpulkan bukti yang akan membantu penanganan perkara di negara mereka.

Informasi tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Pengendali Narkotika Tiongkok (NNCC), Lan Weihong, dalam konferensi pers bersama Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

"Untuk 7 orang yang ditangkap itu akan dihukum di Tiongkok. Dan kali ini memang delegasi kami juga ada kelompok yang khusus melakukan penyelidikan dan pengumpulan bukti di tempat, langsung ke Banda Aceh. Dan ini juga akan membantu penanganan kasus itu di Tiongkok,” jelas Lan.

Lan juga menyebut hukuman maksimal bagi pelaku tindak pidana narkotika di China adalah hukuman mati. Ketentuan tersebut menjadi gambaran beratnya ancaman pidana yang berlaku di negara itu, meski belum ada keterangan mengenai hukuman yang akan dijatuhkan kepada tujuh orang yang ditangkap.

 

Kapolri Siap Kerja Sama dengan China

Di Indonesia, pengusutan jaringan tersebut juga masih berlanjut. Kapolri Suyudi memastikan kerja sama dengan China akan terus ditingkatkan karena masih ada target lain yang perlu ditindaklanjuti.

"Dan tentunya kolaborasi ini akan terus kita tingkatkan dalam rangka keamanan di Indonesia dan juga di beberapa wilayah yang ada di sekitar kawasan Asia,” kata Suyudi.

Kerja sama kedua negara berawal dari penyelidikan otoritas China terhadap kelompok kriminal yang diduga berulang kali mengirim narkotika cair dari Myanmar, Thailand dan Laos ke Indonesia. Pada September 2026, informasi hasil penyelidikan itu disampaikan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk ditindaklanjuti bersama aparat Indonesia.

 

10 Orang jadi Tersangka

Sebulan kemudian, pada 21 Oktober 2026, aparat gabungan Polri, BNN, dan Bea Cukai mengungkap laboratorium gelap sabu di Kabupaten Pidie, Aceh, dengan dukungan informasi dari otoritas China. Dalam operasi tersebut, petugas menyita sabu seberat 1,2 ton.

Polisi telah menetapkan 10 orang sebagai tersangka, sementara satu orang lainnya yang turut diamankan berstatus sebagai saksi. Penyidik masih menelusuri pihak-pihak yang diduga mendanai dan mendukung operasional laboratorium tersebut.

Sebelumnya, Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri Kombes Pol. Zulkarnain Harapan mengatakan, perkara tersebut telah ditingkatkan ke tahap penyidikan.

"Kita sudah menetapkan perkaranya menjadi penyidikan dan sudah menetapkan sebanyak 10 orang tersangka. Sedangkan satu orang yang diamankan di lokasi, kita masih statusnya sebagai saksi," kata Zulkarnain kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Kesepuluh tersangka tersebut memiliki peran masing-masing, mulai dari mengolah sabu, menyiapkan lokasi produksi, hingga menjemput dan mengantarkan pihak lain yang terlibat.

"LJ dan XM, warga negara Cina yang berperan sebagai koki atau ahli kimia pengolahan sabu cair menjadi sabu kristal," kata dia.

MY dan MZ berperan sebagai asisten koki yang membantu mengolah serta mengemas sabu yang telah selesai diproduksi agar siap diedarkan.

Sementara itu, AY bertugas menyuplai logistik sekaligus menyiapkan lokasi laboratorium narkoba (clandestine lab) agar siap beroperasi. Untuk menyamarkan aktivitas tersebut, AY menggunakan kedok bengkel dan mempekerjakan AK, yang kini berstatus sebagai saksi.

Selanjutnya, RJ berperan membeli dan memenuhi kebutuhan perlengkapan serta peralatan untuk mengolah sabu cair di lokasi clandestine lab tersebut.

BS dan MN bertugas menjemput serta mengantarkan dua koki warga negara Cina dari Malaysia ke Aceh.

"Kemudian yang terakhir adalah RM dan RY memiliki peran menjemput di Bandara Sultan Iskandar Mahmud, Iskandar Muda Banda Aceh dan mengantarkannya ke lokasi tempat pembuatan sabu kristal tersebut," tutur Zulkarnain.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.