Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni (tengah). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Lanjutkan dari posisi terakhir
Sahroni mengecam tindakan premanisme yang menimpa seorang perempuan di pasar wilayah Bogor, Jawa Barat.
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni (tengah). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengecam tindakan premanisme yang menimpa seorang perempuan di pasar wilayah Bogor, Jawa Barat. Dia mendorong agar pelaku dan bos-bosnya dipidana. Peristiwa ini terjadi di Pasar Griya Bukit Jaya, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, pada Senin (5/10). Tindakan penganiayaan kepada korban terekam CCTV. Usai dianiaya, korban sempat berteriak sambil menangis. Usai kejadian, korban langsung membuat laporan polisi di Polsek Gunungputri. “Polisi harus tindak tegas pelaku dan para gerombolannya itu, sterilkan pasar dari premanisme. Pemberantasan preman ini harus jadi prioritas karena memang keberadaan mereka sudah sangat mengkhawatirkan," kata Sahroni kepada wartawan, Rabu (7/10). Baca Juga: Mutasi Pati TNI AD, Letjen Tri Budi Utomo jadi Wakil KSAD Gantikan Saleh Mustafa Dia menilai, tindakan premanisme ini layak diproses secara pidana. Terlebih bila pelaku terbukti melakukan penganiayaan kepada korban. "Para preman ini harus diproses hukum dan kalau terbukti melakukan kekerasan dan gangguan keamanan, segera proses pidana," imbuhnya. Proses pengusutan kasus juga tidak bisa hanya berhenti kepada pelaku lapangan. Komplotan preman lainnya perlu diberantas seluruhnya. "Polisi juga wajib menyikat para preman ini sampai petinggi-petingginya. Agar mereka tahu bahwa ini negara hukum, tidak bisa mereka semena-mena melanggar hukum,” jelasnya. Bagi Sahroni, tindakan pelaku sudah sangat meresahkan. Ruang publik tidak boleh dinodai oleh aksi premanisme. “Pasar jangan sampai dikuasai preman. Jangan ada setoran, pemalakan, ancaman, atau kekerasan terhadap pedagang maupun masyarakat. Negara harus memastikan orang bisa berdagang dan berbelanja dengan aman. Kalau ada yang mencoba menguasai ruang publik dengan cara-cara seperti ini, tindak tegas dan jangan kasih ruang,” tukasnya.
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.