Aceh dan Sumatera Utara dilanda banjir dalam beberapa hari terakhir. Data BNPB pada 28-29 Oktober 2026, sebanyak 42.601 jiwa di dua provinsi itu terdampak luapan air sungai.
"Berdasarkan laporan yang kami terima, dalam beberapa hari terakhir terjadi banjir di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara akibat hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan peningkatan debit sungai dan meluapnya air ke permukiman warga," kata Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan saat dikonfirmasi, Jumat (30/10).
Berton mengatakan di Aceh, Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Selatan menjadi bencana banjir yang paling menonjol. Di Gayo Lues banjir terjadi tepatnya di Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang sejak 28 Oktober.
"Berdampak pada sekitar 400 kepala keluarga atau 1.824 jiwa, dengan kurang lebih 400 rumah terdampak," ujar Berton.
"Banjir juga dilaporkan di Kabupaten Aceh Selatan, meliputi Gampong Lhok Raya dan Cot Bayu di Kecamatan Trumon Tengah serta Gampong Padang Harapan di Kecamatan Trumon. Data sementara mencatat sekitar 60 kepala keluarga atau 232 jiwa terdampak, dengan 132 jiwa dilaporkan mengungsi," tambah dia.
Jumlah warga terdampak banjir lebih banyak di Sumut, khususnya Deli Serdang. Di daerah tersebut terdapat 29.730 jiwa yang terdampak banjir. Sebanyak 596 jiwa di antaranya mengungsi.
"Di Provinsi Sumatera Utara, banjir dilaporkan terjadi di Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kota Medan, serta Kabupaten Serdang Bedagai. Dampaknya cukup signifikan, terutama di Deli Serdang, dengan sekitar 7.615 kepala keluarga atau 29.730 jiwa terdampak dan 596 jiwa mengungsi," tuturnya.
Sedangkan di Kota Medan, sekitar 2.405 kepala keluarga atau 7.930 jiwa terdampak, dengan kurang lebih 2.200 rumah terdampak. Kemudian di Kota Binjai, tercatat sekitar 1.014 kepala keluarga atau 3.885 jiwa terdampak dan sekitar 1.014 rumah terdampak.
"Adapun di Serdang Bedagai, pendataan awal mencatat 31 kepala keluarga dan 31 rumah terdampak, disertai kerusakan pada satu jembatan dan satu akses jalan," ujarnya.
Berton menegaskan data tersebut bukan akumulasi dari banjir yang terjadi selama tujuh hari sebelumnya. Data tersebut juga masih dapat berubah.
"Angka ini merupakan rekapitulasi wilayah yang disebutkan di atas, bukan total seluruh kejadian banjir di Sumatera selama tujuh hari penuh. Data masih dapat berubah mengikuti hasil asesmen dan verifikasi BPBD," tuturnya.