Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Analisis 12,4 Juta Akun Digital, Tim Peneliti UPN Veteran Jatim Pecahkan Rekor MURI

Tim peneliti UPN Jawa Timur raih penghargaan MURI atas analisis 12 juta akun terkait opini publik digital mengenai pemerintahan Prabowo.

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
Analisis 12,4 Juta Akun Digital, Tim Peneliti UPN Veteran Jatim Pecahkan Rekor MURI
Foto: Jawa Pos

JawaPos.com - Tim peneliti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur raih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), atas keberhasilan menganalisis sebanyak 12.474.536 akun yang terlibat dalam percakapan digital mengenai pemerintahan Prabowo. Capaian itu tercatat dalam kategori analisis opini publik digital terbanyak. 

Penghargaan MURI itu diterima oleh Prof. Catur Suratnoaji, yang tergabung dalam tim penelitian bersama Yuli Candrasari, Syifa Syarifah Alamiyah, dan Aqsath Rasyid Naradhipa.

 Prof. Catur Suratnoaji mengatakan bahwa perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat menyampaikan pendapat, sekaligus membuka peluang baru dalam penelitian opini publik.

 "Selama ini opini publik umumnya diukur melalui survei dengan jumlah responden tertentu. Namun, perkembangan media sosial memungkinkan kita membaca opini yang benar-benar diekspresikan masyarakat melalui unggahan, komentar, dan berbagai interaksi digital," ujar Catur.

 Menurutnya, penelitian tersebut tidak sekadar mengumpulkan jutaan percakapan, tetapi juga mengidentifikasi akun-akun yang terlibat dalam pembentukan opini publik mengenai pemerintahan Prabowo.

"Yang kami analisis bukan sekadar jumlah komentar, unggahan, atau tanda suka. Ada 12.474.536 akun yang teridentifikasi terlibat dalam percakapan mengenai pemerintahan Presiden Prabowo. Inilah yang menjadi dasar pencapaian rekor MURI," jelasnya.

Meski demikian, Prof Catur menegaskan bahwa jumlah akun digital tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah individu karena satu orang dapat memiliki lebih dari satu akun. 

 "Angka 12,4 juta itu harus dipahami sebagai jumlah aktor komunikasi digital, bukan jumlah responden survei ataupun jumlah penduduk. Jadi, secara metodologis keduanya memang berbeda," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa penelitian tersebut menggunakan pendekatan big data analytics dan Computational Social Science untuk membaca dinamika opini publik yang berkembang melalui media sosial. 

Data dikumpulkan dengan menggunakan sejumlah kata kunci yang berkaitan dengan Presiden Prabowo Subianto dan pemerintahannya, mulai dari "Prabowo", "Presiden Prabowo", "Kabinet Merah Putih", hingga berbagai tagar yang relevan.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.