Kunjungan itu dilakukan Andre bersama Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, Reski Wahyudi dan Kepala Balai Cipta Karya Sumbar Maria Doeni Isa.
Andre menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo atas dukungan anggaran dan percepatan penanganan dampak bencana di Sumatera Barat. Andre mengatakan pemerintah memastikan penanganan bencana tidak berhenti pada tanggap darurat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Menteri PU Dody Hanggodo. Pemerintah pusat menunjukkan komitmen untuk membangun kembali Sumatera Barat setelah bencana," kata Andre, dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).
"Kita melihat langsung alat berat sudah bekerja dan pekerjaan permanen mulai dilaksanakan. Ini yang kita dorong, agar penanganan tidak berhenti pada tanggap darurat, tetapi berlanjut sampai rekonstruksi," sambung Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM) itu.
Andre menjelaskan, percepatan proyek permanen tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan penanganan bencana tidak berlarut-larut. Ia mengapresiasi jajaran BWS Sumatera V, kontraktor pelaksana, serta balai teknis lainnya yang bekerja menyiapkan dan melaksanakan program pemulihan.
"Persiapan pekerjaan seperti ini membutuhkan kajian teknis, desain, dan analisis lingkungan. Namun, kita mendorong agar proses tersebut dipercepat tanpa mengabaikan aspek teknis. Apalagi, banjir kembali terjadi dan masyarakat membutuhkan penanganan yang memberikan perlindungan jangka panjang," ujarnya.
Kepala BWS Sumatera V Padang, Reski Wahyudi, menjelaskan alokasi anggaran penanganan sumber daya air pascabencana di Sumatera Barat mencapai sekitar Rp 4,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp380 miliar dialokasikan untuk penanganan tanggap darurat, sedangkan sekitar Rp3,8 triliun disiapkan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.
Khusus Kota Padang, alokasi rehab-rekon yang disiapkan mencapai sekitar Rp782 miliar. Adapun pekerjaan tersebut mencakup penanganan Batang Kuranji dan Batang Air Dingin, termasuk kawasan Gunung Nago dan Koto Tuo.
Menurut Reski, paket pekerjaan tersebut dirancang tidak hanya untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi, tetapi juga memperkuat sistem pengendalian banjir dan sedimen. Rencana penanganannya meliputi pembangunan dua bendungan, tiga cek dam, normalisasi sungai, pembangunan tanggul, serta pekerjaan terkait penyediaan air baku.
"Untuk Kota Padang, penanganan difokuskan pada dua sungai utama, yakni Batang Kuranji dan Batang Air Dingin, dengan pekerjaan yang tersebar di sejumlah titik. Kita juga menyiapkan bangunan pengendali sedimen di bagian hulu agar material tidak terus terbawa ke hilir ketika terjadi hujan deras," jelas Reski.
Ia menambahkan, penanganan permanen yang semula ditargetkan mulai pada November dapat dimulai pada Oktober 2026. Percepatan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kejadian banjir berulang di Kota Padang.
Secara keseluruhan, pekerjaan penanganan pascabencana yang dilaksanakan BWS Sumatera V mencakup 43 sungai di sejumlah kabupaten dan kota. Berdasarkan paparan Reski, progres perkuatan tebing dan penanganan tanggul berada di kisaran 75 persen, sedangkan normalisasi sungai telah mencapai sekitar 87 persen.
Di Kabupaten Padang Pariaman, anggaran rehab-rekon yang dipaparkan mencapai sekitar Rp 1,33 triliun. Penanganan mencakup Batang Anai, Batang Tapakis, Batang Ulakan, dan Batang Mangor, dengan pekerjaan berupa pembangunan bendungan, tujuh cek dam, normalisasi sungai, dan tanggul.
Sementara itu, Kabupaten Solok mendapatkan alokasi sekitar Rp 392 miliar untuk penanganan Batang Lembang, Batang Gawan, serta sejumlah sungai di kawasan Saniang Baka. Di Kabupaten Agam, anggaran yang dipaparkan mencapai sekitar Rp278 miliar, termasuk penanganan Batang Malalak dan pembangunan delapan cek dam.
Untuk Kabupaten Tanah Datar, program mencakup penanganan Batang Sinamar, pengendalian lahar dan sedimen Gunung Marapi, serta pembangunan bendungan, sabo dam, cek dam, dan normalisasi sungai. Di Kota Padang Panjang, penanganan pengendalian sedimen dan pembangunan satu cek dam direncanakan dengan anggaran sekitar Rp50 miliar. Adapun di Kabupaten Pesisir Selatan, dialokasikan sekitar Rp25 miliar untuk pekerjaan yang dipaparkan BWS Sumatera V.
Reski menegaskan, pekerjaan permanen memerlukan persiapan matang karena penanganan sungai tidak dapat dilakukan hanya pada satu titik. Perencanaan harus memperhitungkan kondisi alur sungai, pergerakan sedimen, kebutuhan bangunan pengendali di bagian hulu, serta dampaknya terhadap kawasan di bagian hilir.
Andre menegaskan akan terus mengawal koordinasi dengan pemerintah pusat dan instansi teknis agar program pemulihan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
"Kami ingin anggaran yang sudah disiapkan pemerintah benar-benar terlaksana dengan baik. Terima kasih kepada Presiden Prabowo, Menteri PU Dody Hanggodo, dan seluruh jajaran yang bekerja di lapangan. Kita berharap rehabilitasi dan rekonstruksi ini dapat memperkuat perlindungan masyarakat Sumatera Barat dari ancaman bencana berikutnya," ujar Andre.
(yld/dhn)