Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

BNPB Ungkap 7 Bencana Baru, dari Kebakaran Hutan sampai Banjir

Enam provinsi menjadi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Liputan 6 4 menit baca 0 komentar
BNPB Ungkap 7 Bencana Baru, dari Kebakaran Hutan sampai Banjir
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tujuh kejadian bencana baru di Indonesia hingga Selasa (3/11/2026). Bencana tersebut terdiri dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, serta cuaca ekstrem.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penambahan tujuh kejadian tersebut membuat total bencana sepanjang 2026 mencapai 2.285 kejadian.

"Total kejadian bencana alam di Indonesia meningkat sebanyak 7 kejadian hari ini dapat kami sampaikan 2 November 2026 kejadian yang kami catat kemarin," ujar Berton dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Berton merinci, dua kejadian karhutla terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Selain itu, terdapat empat kejadian banjir di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara; Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur; serta Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Satu kejadian lainnya berupa cuaca ekstrem di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara.

Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan Karhutla

Berton menyampaikan, saat ini terdapat enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan dan pengendalian karhutla. Luas lahan terdampak di sejumlah wilayah mengalami perubahan.

Di Papua Selatan, luas lahan tercatat 455 hektare atau turun 25 persen. Sementara itu, di Kalimantan Tengah luasnya mencapai 547 hektare atau naik 56 persen, sedangkan di Kalimantan Timur tercatat 60 hektare atau naik 80 persen.

Adapun di Nusa Tenggara Timur, luas lahan dilaporkan turun menjadi 14 persen. Di Sulawesi Tenggara tercatat 91 hektare, sementara di Sulawesi Tengah mencapai 89 hektare atau turun 4 persen.

Berton menjelaskan, hujan yang turun di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur beberapa waktu lalu belum sepenuhnya menghilangkan potensi kebakaran. Sebab, sebagian wilayah tersebut merupakan lahan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.

"Namun mengingat adanya gambut, lahan tersebut adalah lahan gambut sehingga titik api yang ada di permukaan sudah padam. Namun demikian di bawah permukaan bara masih ada sehingga sangat berpotensi terjadi kebakaran hutan baru," kata dia.

Untuk mendukung penanganan karhutla, BNPB menyiagakan 51 unit pesawat dan helikopter. Jumlah tersebut terdiri dari 30 unit untuk operasi pengeboman air (water bombing) dan 21 unit untuk patroli maupun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Dan 51 unit ini juga kami senantiasa siagakan di beberapa provinsi serta kami melakukan operasi modifikasi cuaca atau pun waterbombing ketika memang memungkinkan kami lakukan, dari antara 51 ini ada 30 untuk waterbombing dan 21 untuk patroli maupun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)," papar Berton.

 

OMC Digelar di Tiga Provinsi

BNPB juga menggelar Operasi Modifikasi Cuaca di tiga provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan.

Di Kalimantan Tengah, OMC dilakukan sebanyak enam sorti dengan menyebarkan 10.600 kilogram bahan berupa dry ice dan natrium klorida (NaCl). BNPB menerima laporan hujan turun di sejumlah wilayah, antara lain Palangka Raya, Sukamara, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Gunung Mas, serta kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, OMC dilaksanakan sebanyak dua sorti dengan menyebarkan 1.800 kilogram NaCl. Hujan dilaporkan turun di Banjarbaru, Banjarmasin, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.

Adapun di Sumatra Selatan, BNPB melaksanakan empat sorti dengan menyebarkan 5.600 kilogram NaCl. Hujan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, seperti Palembang, Muara Padang, dan Banyuasin.

Dengan demikian, total bahan berupa NaCl dan dry ice yang disebarkan untuk pelaksanaan OMC di ketiga provinsi tersebut mencapai 19.500 kilogram.

Selain itu, BNPB juga melakukan OMC di Papua Selatan. Berton menyebutkan, sebanyak 20.000 kilogram NaCl telah disebarkan melalui 20 sorti penerbangan.

"Sedangkan untuk hotspot yang ada di Papua Selatan kami bisa sampaikan secara total kami sudah menyebarkan 20.000 kg NACL. Itu menggunakan 20 sorti dan bisa kami sampaikan 1 atau 2 sorti setiap hari kami menyebarkan garam tersebut tergantung kondisi pertumbuhan awan," tutur Berton.

Menurut Berton, pertumbuhan awan di wilayah tengah dan utara Papua Selatan relatif memadai sehingga memungkinkan pelaksanaan OMC. Namun, operasi belum dapat dilakukan di wilayah selatan karena sulit mendapatkan bibit-bibit air.

"Sedangkan bagian selatan karena sulitnya mendapatkan bibit-bibit air sehingga kami belum bisa melaksanakan omisi di wilayah bagian selatan di Papua Selatan. Sedangkan pertumbuhan titik spot yang kami lihat ada di bagian timur maupun bagian selatan," jelas Berton.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.