Sihanoukville -
Kapal pesiar mewah yang sedang dalam pelayaran keliling dunia selama bertahun-tahun mengumumkan penghentian operasional gara-gara lonjakan harga bahan bakar. Hal itu membuat para penumpangnya telantar di Kamboja.
Dilansir BBC, Kamis (29/10/2026), operator kapal Villa Vie Odyssey yang berbasis di Amerika Serikat (AS) menyatakan sedang berkoordinasi dengan para penumpang terkait rencana turun dari kapal dan pengaturan tempat tinggal sementara.
Kapal dengan panjang hampir 200 meter itu mampu menampung hingga 650 penumpang. Kapal tersebut awalnya bertolak dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024 untuk memulai pelayaran berkelanjutan keliling dunia. Namun, harga bahan bakar global melonjak tinggi sejak konflik yang dipicu AS di Iran pada awal tahun ini.
Pihak operator kapal menyebut biaya bahan bakar bulanan per kabin di beberapa wilayah Asia telah naik dari 1.800 dolar AS menjadi 8.000 dolar AS (setara Rp 146 juta).
Terdapat sekitar 200 penumpang di dalam kapal saat mereka diminta untuk turun di kota pelabuhan Sihanoukville, Kamboja. BBC menyebut kota itu dulu tenang, namun dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan dunia sebagai pusat kasino dan lokasi penipuan daring yang dikelola pihak dari China. Kota ini juga dikenal sebagai markas judi online (Judol), meski otoritas Kamboja telah melakukan penertiban.
Menurut situsnya, pelayaran Villa Vie Odyssey direncanakan berlangsung selama 3,5 tahun dan mencakup hampir 150 negara. Sebelumnya, keberangkatan kapal ini sempat tertunda karena harus menjalani perbaikan, yang menyebabkan para penumpang telantar di Belfast selama berbulan-bulan dan menelan biaya jutaan poundsterling bagi perusahaan.
Kapal tersebut telah menempuh perjalanan selama lebih dari 750 hari sebelum akhirnya mengumumkan penghentian pelayaran pada Selasa lalu. Hal itu menyebabkan para penumpangnya kini telantar di Kamboja.
Penumpang Lanette Canen dan Johan Bodin mengatakan kepada BBC bahwa mereka diberitahu oleh kepala eksekutif Villa Vie Residences pada hari Selasa pukul 6 pagi bahwa mereka harus segera pergi paling lambat pukul 2 siang di hari yang sama.
Pasangan tersebut menuturkan bahwa para penumpang sebenarnya sudah lama mengetahui kesulitan keuangan yang dialami perusahaan.
"Kami tetap tidak percaya saat kenyataan itu benar-benar tiba. Hati kami hancur. Rasanya seperti impian kami telah pupus. Banyak pelukan dan air mata yang tercurah saat para penghuni kapal saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi situasi ini," ujarnya.
Penumpang lain, Holly Hennessey, mengungkapkan para penumpang sempat diminta untuk mempertimbangkan pembayaran biaya tambahan bahan bakar akibat lonjakan harga global dan rencana perjalanan mereka pun telah dipangkas secara drastis. Dia menyebut beberapa orang memutuskan untuk turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat.
"Kamboja bukanlah tempat yang pernah saya bayangkan akan menjadi lokasi di mana saya harus menghabiskan banyak waktu. Kami semua berada di hotel yang berbeda-beda; ada beberapa rekan sesama penumpang kapal yang menginap di hotel yang sama dengan saya. Saat ini, kami hanya bisa menunggu," ujar Hennessey.
Sebagai informasi, harga untuk hunian permanen di kabin kapal tersebut berkisar antara USD 120.000 hingga USD 440.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar hingga Rp 8 miliar. Kabin-kabin tersebut juga tersedia untuk disewa dengan harga mulai dari USD 3.500 (Rp 63 juta) per bulan.
Tahun lalu, perusahaan tersebut meluncurkan program hunian seumur hidup yang memungkinkan orang untuk menghabiskan masa pensiun mereka di laut. Banyak penumpang yang telah berencana untuk tinggal bersama di luar kapal atau melanjutkan perjalanan dengan cara lain.
(haf/imk)