Washington DC -
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menghubungi pejabat tinggi keamanan Iran, baru-baru ini, dalam upaya menghidupkan kembali negosiasi damai yang dapat mencegah serangan baru AS terhadap Republik Islam tersebut. Upaya diplomasi antara kedua negara menghadapi kebuntuan beberapa waktu terakhir.
Informasi tersebut, seperti dilansir AFP, Kamis (29/10/2026), disampaikan oleh media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), yang mengutip sejumlah sumber dalam laporan terbarunya pada Rabu (28/10) waktu setempat.
Laporan WSJ mengungkapkan bahwa Vance telah mengirimkan surat kepada Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei.
Langkah ini, menurut salah satu sumber yang dikutip WSJ, dilakukan atas arahan Presiden AS Donald Trump.
Disebutkan oleh WSJ dalam laporannya bahwa surat tersebut, beserta pembicaraan lanjutan antara para pejabat AS dan Iran, berfokus pada kemungkinan kerangka kerja untuk negosiasi, bukan pada detail spesifik dari usulan perdamaian.
Perang yang dikobarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, telah sengat mengganggu pengiriman pasokan energi dari negara-negara Teluk, yang memicu dampak buruk bagi ekonomi global.
Sejak perang berkecamuk, Iran memblokade Selat Hormuz, jalur perairan vital yang sebelumnya dilalui seperlima pasokan minyak dan gas global. Teheran membatasi akses pelayaran dan kerap menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas tanpa izin mereka.
Sebagai balasan, AS menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan tujuan menekan perekonomian negara tersebut.
Laporan WSJ juga menyebutkan bahwa AS telah meminta sejumlah negara Teluk Arab untuk bersiap menghadapi kemungkinan "operasi militer singkat namun intens" terhadap Iran, yang diperkirakan akan dilancarkan setelah pemilu sela pada 3 November mendatang.
Namun, menurut WSJ, Trump belum mengambil keputusan akhir.
Sementara itu, militer Iran melontarkan peringatan bahwa mereka akan melancarkan pembalasan yang lebih luas terhadap setiap serangan baru. Rezaei baru-baru ini menyatakan bahwa Iran dapat menyerang infrastruktur terkait AS, termasuk pusat data dan target-target lain terkait AI, yang ada di kawasan Timur Tengah.
(nvc/dhn)