Gaza -
Otoritas Israel memulangkan para pelintas yang ingin menyeberangi perlintasan perbatasan Rafah yang berada di antara Mesir dengan Gaza, Palestina. Israel juga menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan dan truk komersial dari Mesir ke Jalur Gaza.
Dilansir Xinhua, Rabu (4/11/2026), Otoritas perlintasan perbatasan Gaza dalam sebuah pernyataan mengatakan Israel memberlakukan tindakan tersebut terhadap para pelintas dengan menyebutnya sebagai 'dalih dan klaim terkait situasi keamanan di daerah itu.
Israel disebut telah memberi tahu pihak Mesir tentang penangguhan masuknya bantuan dan barang. Otoritas perbatasan mencatat ada sekitar 40 truk yang membawa bantuan dan pasokan komersial memasuki wilayah kantong tersebut setiap hari dari Mesir.
Sumber-sumber militer Israel mengatakan kepada Kan TV News milik pemerintah Israel bahwa militer telah memutuskan untuk menutup perlintasan Rafah karena dugaan penyelundupan. Mereka menyebutnya sebagai campur tangan pasukan keamanan Hamas di Jalur Gaza.
Keputusan tersebut tidak mempengaruhi perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem yang merupakan perbatasan antara Gaza dengan Israel. Penangguhan tersebut mencakup bantuan dari komite Mesir, PBB, dan organisasi internasional, serta pengiriman komersial dari Mesir, termasuk bahan bakar, gas, makanan, dan barang-barang lainnya.
Tidak ada komentar langsung dari Hamas mengenai perkembangan tersebut. Sementara itu, kantor media pemerintah yang dikelola Hamas di Gaza pada Senin (2/11) mengatakan otoritas Israel telah mengizinkan 77.657 truk masuk ke wilayah kantong tersebut sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025.
Jumlah itu setara dengan 33,4 persen dari 232.800 truk yang dijadwalkan masuk berdasarkan perjanjian tersebut. Pada Oktober, sebanyak 3.777 truk memasuki Gaza dari 18.600 yang ditetapkan dalam perjanjian itu, atau hanya 20,3 persen.
Truk-truk itu termasuk 1.805 truk yang membawa bantuan kemanusiaan, 1.725 pengiriman komersial, dan 247 truk bahan bakar. Sebanyak 14.821 pelintas juga telah melewati Rafah dalam dua arah sejak perjanjian tersebut berlaku, atau 37 persen dari perkiraan 40.000 orang.
Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, memperingatkan bahwa pembatasan memperburuk kondisi ekonomi dan kehidupan warga. Saat ini, warga di Gaza menghadapi kekurangan barang-barang kebutuhan pokok, kenaikan harga yang tajam, serta hampir runtuhnya daya beli penduduk.
(haf/imk)