Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Jangan Tunggu Patah Tulang! Ini Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang sejak Dini

Jangan tunggu patah tulang untuk memeriksa kesehatan tulang. Kenali risiko osteoporosis, pentingnya deteksi dini, dan peran Fracture Liaison Service (FLS).

iNews 2 menit baca 0 komentar
Jangan Tunggu Patah Tulang! Ini Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang sejak Dini
Foto: iNews

JAKARTA, iNews.id - Menjaga kesehatan tulang kerap baru menjadi perhatian ketika seseorang mengalami cedera, nyeri sendi, atau bahkan patah tulang. Padahal, gangguan seperti osteoporosis bisa berkembang tanpa gejala yang jelas hingga akhirnya menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Risiko tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat berusia 50 tahun ke atas. International Osteoporosis Foundation (IOF) mencatat, satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki dalam kelompok usia tersebut akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya.

Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Patah tulang akibat kerapuhan dapat mengganggu mobilitas, mengurangi kemandirian, hingga memengaruhi kualitas hidup seseorang. Terlebih, orang yang pernah mengalami patah tulang akibat kerapuhan memiliki risiko lebih tinggi mengalami patah tulang berikutnya, terutama dalam satu hingga dua tahun setelah kejadian pertama.

Dokter menyarankan untuk menjaga kesehatan tulang. (Foto: Istimewa)Dokter menyarankan untuk menjaga kesehatan tulang. (Foto: Istimewa)

Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Hospital Director Siloam Hospitals Mampang, mengatakan penanganan pasien patah tulang seharusnya tidak berhenti setelah tindakan medis selesai. Pasien tetap membutuhkan evaluasi dan tindak lanjut untuk mengetahui faktor risiko osteoporosis serta mencegah kejadian serupa.

"Penanganan pasien patah tulang tidak seharusnya berhenti ketika tindakan medis selesai dan pasien diperbolehkan pulang. Melalui pengembangan Fracture Liaison Service, kami ingin membangun proses tindak lanjut yang lebih terstruktur, mulai dari identifikasi pasien berisiko, evaluasi osteoporosis, hingga edukasi dan penanganan lanjutan," ujarnya.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.