JawaPos.com - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan metode water bombing atau pengeboman air dinilai lebih efektif untuk wilayah yang bukan lahan gambut. Sementara itu, kebakaran di lahan gambut membutuhkan penanganan berbeda karena volume air yang diperlukan sangat besar dan solusinya di bawah tanah.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Fauzan Adziman mengatakan, efektivitas water bombing bergantung pada kondisi lahan yang terbakar. Karena itu, penanganan karhutla perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah dan didasarkan pada kajian ilmiah.
“Kalau dia bukan lahan gambut, itu sebetulnya masih bisa kita manfaatkan. Jadi para pakar akhirnya menyampaikan juga waktu itu langsung kepada Bapak Presiden. Jadi, sebetulnya akan melihat kondisi di lapangan,” ujar Fauzan kepada wartawan, Senin (2/11).
Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla berbasis riset dan pengembangan diarahkan pada tiga aspek utama. Pertama, mengembangkan pemanfaatan lahan gambut agar lebih produktif, termasuk melalui teknologi budidaya yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kedua, memperkuat kemampuan prediksi dan deteksi dini kebakaran. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan data temperatur, kelembapan, kondisi lapangan, citra satelit, hingga teknologi pesawat nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV).
Data tersebut diharapkan dapat membantu peneliti memahami perkembangan kondisi yang berpotensi memicu kebakaran sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan sebelum api meluas.
Fauzan menyebut, pengembangan teknologi prediksi menjadi salah satu fokus yang terus didorong. Kemendiktisaintek juga membangun kapasitas riset melalui kolaborasi dengan pakar, termasuk diaspora Indonesia yang memiliki keahlian di bidang terkait.
Ketiga, mengembangkan solusi pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi. Khusus untuk lahan gambut, Fauzan sebelumnya menjelaskan bahwa satu kilogram gambut yang terbakar membutuhkan sekitar enam liter air untuk dipadamkan. Sementara itu, pemadaman kebakaran gambut seluas satu hektare diperkirakan membutuhkan jutaan liter air.
Karena itu, pemanfaatan sumber air bawah permukaan dan penyediaan pompa di kawasan rawan kebakaran menjadi salah satu alternatif penanganan yang dikaji.
Fauzan menegaskan, pengembangan solusi berbasis sains perlu berjalan beriringan dengan upaya penegakan hukum. Keduanya memiliki pendekatan berbeda, tetapi sama-sama dibutuhkan dalam penanganan karhutla.