Jakarta -
Kepala Badan Gizi Nasional mewajibkan setiap CCTV dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) terkoneksi dengan sistem yang ada di pusat BGN. Dengan demikian, pengawasan terhadap dapur-dapur tersebut bisa ditingkatkan.
Lanjutkan dari posisi terakhir
Kepala BGN mewajibkan CCTV dapur Makan Bergizi terkoneksi dengan sistem pusat. Pihaknya ingin meningkatkan pengawasan demi mencegah keracunan.
Jakarta -
Kepala Badan Gizi Nasional mewajibkan setiap CCTV dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) terkoneksi dengan sistem yang ada di pusat BGN. Dengan demikian, pengawasan terhadap dapur-dapur tersebut bisa ditingkatkan.
"Jadi dapur itu sudah ada CCTV-nya Bapak Ibu semua. CCTV-nya ya CCTV lokal situ. Maka yang kami lakukan adalah kami ingin CCTV yang gambarnya dinikmati oleh si pemilik dapur itu, kemudian bisa kami nikmati dengan cara dikoneksikan ke pusat. Kemudian dikasih artificial intelligence," kata Sudaryono dalam perhelatan 'Transformasi MBG 2.0' di Usmar Ismail Hall, Jalan Rasuna Said, Setia Budi, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Sudaryono mengatakan rencana tersebut juga sudah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia mengatakan hal tersebut sudah mulai diuji coba.
"Sehingga dia naruh, naruh bahannya di lantai, dia tidak pakai sarung tangan, dia nyacah kol di lantai dan lain sebagainya, itu ter-pop up, kemudian kita bisa cegah sebelum bahan makanan yang dia olah itu jadi makanan," kata Sudaryono.
"Ini sudah berhasil piloting-nya. Dan sesuai dengan instruksi Presiden, kami laporkan kepada Beliau karena ada beberapa laporan terkait kasus keracunan kami laporkan. Ini menjadi mandatory bahwa semua dapur wajib CCTV-nya harus connect kepada sistem BGN sehingga bisa diawasi," tambahnya.
Kendati demikian, Sudaryono mengatakan ada tantangan dalam penerapan sistem itu. Ia menjelaskan ada juga dapur MBG yang tidak berkenan memasangkan CCTV terkoneksi.
"Masalahnya satu Bapak Ibu semua, masalahnya adalah dapur itu nggak mau, beberapa, karena dia telanjang. Kalau dia connect CCTV, dia telanjang. Dapurnya bersih, jorok, jelek-kah, bagus-kah, apa, termasuk cengkok-cengkok lengkok-lengkok antar-ruangan ketahuan semua. Tapi ini semua menjadi tonggak fungsi pengawasan yang menjadi, yang akan kita kerjakan," kata dia.
Sudaryono menargetkan sampai akhir 2026 akan ada 10 ribu dapur MBG yang CCTV-nya sudah terkoneksi dengan sistem sentral. Pihaknya juga telah menetapkan Buku Pedoman Manajemen Krisis untuk meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG.
"Kebetulan yang di SPPG Polri, kemudian ada SPPG dari instansi lain, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan lain sebagainya itu siap untuk kemudian terkoneksi lebih dulu. Kami targetkan sampai dengan akhir tahun ini minimal 5.000 sampai dengan 10.000 dapur dari 26.300 dapur tadi sudah terkoneksi dengan CCTV secara sentral yang kemudian digabungkan atau diamati melalui artificial intelligence sehingga kita bisa lakukan fungsi-fungsi pencegahan terkait pelaksanaan SOP di dapur," ujar Sudaryono.
"Kita juga sudah tetapkan ada Buku Pedoman Manajemen Krisis kalau terjadi ada keracunan, kecelakaan, dan lain sebagainya. Jadi kita barang-barang yang dulu tidak ada, kami adakan," imbuhnya.
(dwr/gbr)
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.