Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Kunjungan Presiden Jerman ke China, Manuver Diplomatik Saat Situasi Genting

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melakukan kunjungan kenegaraan ke China, di tengah situasi politik dan ekonomi yang sensitif.

Detik 5 menit baca 0 komentar
Kunjungan Presiden Jerman ke China, Manuver Diplomatik Saat Situasi Genting
Foto: Detik

Berlin -

Delapan tahun telah berlalu sejak perjalanan terakhir Frank-Walter Steinmeier ke Negeri Tirai Bambu. Sejak saat itu, China, Eropa, dan hubungan di antara keduanya telah mengalami banyak perubahan.

Selama beberapa hari berada di China, presiden Jerman itu ingin melihat langsung situasi di negara tersebut sebelum mengakhiri kunjungannya dengan bertemu para pemimpin China di Beijing.

Pertemuan itu berlangsung tepat ketika para pemimpin China berkumpul pada pekan ini untuk menghadiri sidang pleno tahunan Komite Sentral Partai Komunis China. Kunjungan kepala negara asing pada periode seperti ini terbilang jarang terjadi.

Menurut Kantor Kepresidenan Jerman, fokus kunjungan kenegaraan yang berlangsung selama beberapa hari, dari 26 hingga 31 Oktober, adalah "hubungan Jerman dengan China yang beragam dan kompleks, beserta tantangan-tantangan yang menyertainya". Selain mengunjungi sejumlah tempat yang menjadi pusat pertukaran budaya, Steinmeier juga dijadwalkan mengunjungi pabrik Volkswagen di Hefei.

Manuver diplomatik di antara dua kepentingan

Industri otomotif memperlihatkan dengan jelas dilema yang dihadapi Jerman dalam kebijakan terhadap China. Bagi produsen mobil dan mesin Jerman, serta industri kimia, China merupakan salah satu pasar terpenting untuk menjual produk mereka.

Namun, pada saat yang sama, kapasitas produksi berlebih di China yang didukung negara menekan para produsen Eropa. Ketergantungan pada bahan baku dan teknologi juga menjadi persoalan, sehingga Jerman dan Eropa semakin gencar mencari kemitraan alternatif.

Steinmeier, yang dahulu merupakan pendukung kebijakan "perubahan melalui perdagangan" (Wandel durch Handel) yang kini telah terbukti gagal, kini harus menyuarakan pendekatan Eropa yang lebih tegas di Beijing.

Di tengah tarik-menarik antara kemitraan dan persaingan, Eropa baru-baru ini berhasil mencapai kesepakatan: Impor kendaraan hibrida plug-in dari China akan dikurangi. "Itu merupakan langkah konkret, tetapi langkah tersebut baru bisa menjadi awal," kata Michael Laha, pakar China dari Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman (Deutsche Gesellschaft fr Auswrtige Politik/DGAP) di Berlin.

Kanselir dan presiden Jerman sama-sama bertolak ke Asia Timur

Bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Steinmeier ke China, Kanselir Jerman Friedrich Merz melakukan perjalanan ke kawasan Indo-Pasifik bersama sejumlah perwakilan dunia usaha.

Di Jepang, Singapura, dan Korea Selatan, agenda yang dibahas mencakup daya saing, transformasi teknologi, kerja sama pertahanan, serta bahan baku kritis. Merz mengunjungi sejumlah perusahaan dan menghadiri konferensi ekonomi regional penting di Tokyo dan Seoul.

Dengan demikian, Berlin menyampaikan dua pesan sekaligus. Ketika kanselir "secara terarah memperkuat kemitraan Jerman di kawasan Indo-Pasifik di tengah perubahan global yang mendasar", presiden Jerman mencari dialog dengan Beijing—pada saat Jerman dan Eropa sedang menata ulang keseimbangan hubungan mereka dengan China.

"Perjalanan ganda ini merupakan pesan yang dikoordinasikan dengan sangat baik kepada pihak China bahwa Jerman tetap berpegang pada kemitraan, tetapi pada saat yang sama juga menerapkan strategi derisking," kata pakar China, Laha. Menurutnya, ini merupakan langkah penyeimbangan yang sulit, tetapi sekaligus memungkinkan China menjaga muka.

Ruang yang terbatas bagi isu hak asasi manusia

Sementara Merz didampingi oleh delegasi bisnis dalam jumlah besar, Steinmeier membawa perwakilan dari kalangan budaya, politik, dan ilmu pengetahuan ke China. Direktur Institut China MERICS, Mikko Huotari, juga dijadwalkan ikut serta, meskipun Beijing telah menjatuhkan sanksi terhadap lembaga tersebut.

"Keikutsertaannya merupakan pesan yang jelas kepada pihak China bahwa Jerman tidak menganggap sanksi tersebut dapat diterima," kata Michael Laha.

Pada 2021, Uni Eropa untuk pertama kalinya sejak pembantaian Tiananmen pada 1989 menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat partai dan pejabat daerah China, serta sebuah organisasi. Mereka dituduh melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia dan menindas kelompok minoritas Uighur. Sebagai balasan, Beijing memberlakukan larangan masuk dan sanksi lainnya terhadap sejumlah politikus, ilmuwan, serta lembaga Eropa, termasuk MERICS.

Pakar DGAP, Laha, tidak memperkirakan bahwa isu hak asasi manusia akan mendapat porsi besar dalam kunjungan presiden Jerman tersebut. Steinmeier dikenal sebagai seorang pragmatis dalam kebijakan terhadap China. Ketika menjabat sebagai menteri luar negeri, ia mengambil jarak dari pendekatan kritis terhadap China yang ditempuh pendahulunya, Joschka Fischer, dan mengkritik Kanselir Angela Merkel karena menerima Dalai Lama.

China diminta menjalankan tanggung jawab internasionalnya

Dalam isu Ukraina, Steinmeier kemungkinan akan berbicara lebih tegas dan menyinggung peran China. "Beijing jelas berpihak kepada Moskow," kata Michael Laha. Namun, pemerintah Jerman meyakini bahwa China dapat berbuat lebih banyak untuk mendorong Rusia melakukan perundingan yang serius dan menemukan penyelesaian konflik.

Steinmeier berpeluang menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya di Universitas Peking pada hari Kamis. Menurut Kantor Kepresidenan Jerman, Jerman telah "mengiringi kebangkitan China selama bertahun-tahun dengan rasa hormat dan sikap positif". Kini, persoalannya bukan lagi semata-mata bagaimana China terus bangkit, melainkan bagaimana negara itu menggunakan kekuasaannya yang semakin besar.

"Jika presiden Jerman menegaskan bahwa Rusia menggunakan kekuatannya untuk menyerang sebuah negara berdaulat, ia mungkin sedang menyinggung persoalan lain yang berkaitan dengan kawasan tersebut: Taiwan," kata Laha. Pernyataan semacam itu akan menjadi seruan kepada Beijing agar mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga tatanan regional dan internasional.

Sebagai penutup kunjungannya, Steinmeier akan bertemu dengan para pemimpin China di Beijing. Pertemuan yang direncanakan mencakup pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping, yang telah dikenalnya selama hampir dua dekade, serta Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji.

Kunjungan ini menjadi penutup rangkaian fokus Steinmeier pada Asia selama masa jabatan keduanya. Sejak Jerman memasuki era perubahan mendasar yang dikenal sebagai Zeitenwende, ia secara khusus berupaya mempererat hubungan dengan para mitra di kawasan tersebut dan mendorong diversifikasi kemitraan. Kini, China—mitra Jerman yang paling penting sekaligus paling sulit—menjadi tujuan terakhir dalam rangkaian tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

(nvc/nvc)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.