Brasilia -
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva berhasil meraih kemenangan dramatis atas rivalnya, Senator Flavio Bolsonaro, dalam putaran kedua pilpres pada Minggu (25/10) waktu setempat. Lula da Silva juga mencetak sejarah dengan menjabat Presiden Brasil selama empat periode.
Dalam pidato pertama usai kemenangannya, seperti dilansir AFP, Senin (26/10/2026), Lula da Silva mengucapkan terima kasih kepada rakyat Brasil yang disebutnya telah memberikan suara untuk "menjamin demokrasi" di negara tersebut.
"Orang-orang datang untuk memilih karena kita berhasil meyakinkan mereka bahwa memberikan suara sangatlah penting demi menjamin demokrasi di negara ini," kata Lula da Silva dalam komentar pertamanya setelah meraih kemenangan.
Kemenangan ini disambut kembang api dan suara vuvuzela di Rio de Janeiro, dengan ribuan orang yang mengenakan pakaian serba merah -- warna Partai Pekerja yang menaungi Lula da Silva -- memadati jalanan di Sao Paulo untuk merayakan kemenangan itu.
Kemenangan Lula da Silva ini tergolong dramatis, karena tidak pernah ada kandidat yang kalah pada putaran pertama pilpres, akhirnya berhasil menang pada putaran kedua pilpres di Brasil sejak tahun 1989 silam -- ketika pemilu langsung pertama digelar usai runtuhnya diktator militer di negara tersebut.
Dengan 100 persen suara telah dihitung, Lula da Silva meraup 51,79 persen suara mengungguli Flavio Bolsonaro yang hanya meraup 48,21 persen suara. Selisih suara keduanya disebut mencapai 4,4 juta suara.
Kemenangan ini membalikkan keadaan setelah pada putaran pertama pada awal Oktober lalu, Lula da Silva kalah mengejutkan dari Flavio Bolsonaro.
Dengan kemenangan Lula da Silva, maka Brasil mampu membendung gelombang konservatif yang telah melanda sejumlah negara Amerika Latin, seperti Argentina, Chile, Kolombia, dan Peru, yang semuanya bergeser ke haluan sayap kanan dengan dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Veteran Politik yang Sempat Gagal Berkali-kali dalam Pilpres
Dengan usianya akan menginjak 81 tahun pada Selasa (27/10), Lula da Silva sudah sangat veteran dan sangat berpengaruh dalam kancah perpolitikan Brasil, setidaknya selama empat dekade. Kemenangannya dalam pilpres tahun ini menjadi babak akhir yang sensasional dalam perjalanan karier politiknya yang panjang.
Karier politik Lula da Silva bermula saat dia muncul sebagai pemimpin serikat buruh di kawasan industri pinggiran Sao Paulo pada akhir tahun 1970-an.
Sebelum terjun ke dunia politik, Lula da Silva yang lahir dalam kemiskinan ini pernah bekerja sebagai tukang semir sepatu dan penjual kacang, sebelum akhirnya menjadi pekerja pabrik logam dan aktivis serikat buruh. Pada tahun 1960-an, dia kehilangan salah satu jari tangannya akibat kecelakaan kerja.
Usai terjun ke dunia politik, Lula da Silva sempat tiga kali gagal dalam pilpres Brasil -- tahun 1989, tahun 1994, dan tahun 1998 -- sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden pertama Brasil yang berasal dari kelas pekerja pada tahun 2002. Dia menjabat selama dua periode dan mengakhiri jabatannya sesuai dengan batas maksimal yang diizinkan oleh Konstitusi Brasil.
Lula da Silva mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2010 lalu sebagai pahlawan bagi kaum pekerja, setelah berhasil memimpin Brasil di tengah lonjakan ekonomi berbasis komoditas yang mampu mengentaskan 30 juta orang keluar dari kemiskinan.
Skandal korupsi besar-besaran kemudian membayangi Lula da Silva dan partainya, memicu gelombang kekecewaan publik yang kemudian mengantarkan Jair Bolsonaro, ayah dari Flavio Bolsonaro, ke kursi kepresidenan tahun 2018.
Lula da Silva sempat dipenjara sebelum pilpres berlangsung, hingga akhirnya dakwaan yang menjeratnya dibatalkan karena alasan prosedural dan hakim utama dalam kasusnya dinyatakan tidak objektif. Meski demikian, Lula da Silva tidak sepenuhnya dinyatakan bersih dari tuduhan dan skandal itu terus membayanginya.
Masa kepresidenan Bolsonaro justru membawa perpecahan yang lebih dalam di Brasil. Pada pilpres tahun 2022, Lula da Silva kembali ke panggung politik secara dramatis setelah berhasil menang tipis atas Bolsonaro, yang menjadi kandidat petahana.
Bolsonaro menolak kekalahannya dan kemudian dijebloskan ke penjara setelah dinyatakan bersalah atas dakwaan merencanakan kudeta terhadap Lula da Silva.
Lula da Silva berhasil mempertahankan kekuasaannya setelah unggul atas Flavio Bolsonaro dalam pilpres pada 25 Oktober waktu setempat. Sama seperti ayahnya, Flavio Bolsonaro menolak untuk mengakui kekalahan dan menyatakan akan mengajukan pembatalan pemilu ini.
(nvc/dhn)