Teheran -
Para pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan akan mengadakan pembicaraan mengenai keamanan regional dengan sejumlah pejabat Iran di Teheran. Pertemuan itu digelar untuk meredakan ketegangan yang terjadi di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.
Dilansir AFP, Senin (26/10/2026), pertemuan ini berlangsung setelah delapan bulan perang di Timur Tengah serta adanya ancaman baru-baru ini dari Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan kembali terhadap Iran. Pertemuan juga digelar di tengah meningkatnya serangan Houthi, yang didukung Iran, ke wilayah Arab Saudi.
"Sesuai kesepakatan, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman, Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir, dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin akan berpartisipasi dalam pertemuan ini," ujar Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri Kani.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah, Kani mengatakan pertemuan tersebut juga akan dihadiri oleh kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei. Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi, Rayed Krimly, mengonfirmasi Menteri Pertahanan Saudi memimpin delegasi yang bertolak ke Teheran hari ini.
"Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan oleh negara-negara dalam Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah untuk meredakan ketegangan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam krisis saat ini," tulis Krimly dalam sebuah unggahan di platform X.
Dia mengatakan pertemuan ini bertujuan untuk mendorong dialog dan solusi diplomatik untuk mendukung upaya mediasi yang dilakukan oleh Qatar dan Pakistan. Dialog itu digelar di tengah perang yang melanda Timur Tengah sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan mendadak terhadap Iran.
Gencatan senjata pada bulan April sempat membuat perang berhenti. Namun, kedua belah pihak terus memperebutkan kendali atas Selat Hormuz yang sebelumnya dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Iran mengeklaim kendali atas selat tersebut dan kerap menargetkan kapal-kapal yang mencoba melintas tanpa izin, sementara AS telah menerapkan blokade balasan melalui angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Upaya diplomatik untuk menyelesaikan krisis masih menemui jalan buntu, terutama sejak runtuhnya kesepakatan bulan Juni yang telah menetapkan langkah menuju penyelesaian permanen.
Sejak saat itu, perang telah meluas ke seluruh kawasan, termasuk pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
(haf/dhn)