Beijing -
Seorang mantan guru sekolah dasar (SD), Michael Mai, berhasil masuk dalam jajaran miliarder baru di China menyusul debut manis perusahaannya di bursa saham. Saham perusahaannya mencatatkan lonjakan sehingga membuat Mai kaya raya.
Dilansir CNN, Jumat (6/11/2026), perusahaan Mai yaitu penyedia pita perekat dan produk adhesif untuk raksasa teknologi ini mencatatkan lonjakan harga saham yang sangat signifikan pada perdagangan perdananya, menurut laporan Forbes. Mai, Chairman sekaligus CEO dari Crown New Materials Technology, mengukuhkan posisinya di jajaran papan atas pengusaha sukses pada Selasa lalu. Perusahaannya, yang memproduksi bahan perekat khusus untuk merek-merek global seperti Tesla dan Apple, resmi melantai di Bursa Efek Shenzhen, pasar saham terbesar kedua di China daratan.
Berdasarkan data bursa Shenzhen, saham perusahaan melonjak drastis hingga 787%, bergerak dari harga penawaran awal sebesar 16,98 yuan (sekitar Rp40.000) hingga menyentuh titik tertinggi di level 150,58 yuan (sekitar Rp350.000) per lembar saham.
Berkat kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut, pria berusia 62 tahun berpaspor Australia dan berstatus penduduk tetap Hong Kong ini kini diperkirakan memiliki kekayaan bersih mencapai US$2,5 miliar (sekitar Rp39 triliun).
Sebelum meraih kesuksesan finansial ini, Mai diketahui pernah mengajar sebagai guru SD di Zhongshan, sebuah kota di China selatan yang kini menjadi lokasi markas besar perusahaan yang didirikannya pada tahun 2000 tersebut.
Keberhasilan ini juga dirasakan oleh sang kakak, Mai Huixia (64), yang menjabat sebagai Wakil Ketua Perusahaan. Forbes melaporkan bahwa porsi kepemilikan saham Huixia melambungkan nilai kekayaannya hingga menyentuh angka US$2 miliar (sekitar Rp31 triliun).
Meski sempat melonjak tajam, harga saham perusahaan mulai melunak ke kisaran 77 yuan per lembar pada Rabu pagi. Lonjakan drastis pada hari pertama perdagangan sempat mendorong pihak manajemen untuk merilis pernyataan resmi yang mengimbau para investor agar tetap "berinvestasi secara rasional."
Hingga berita ini diturunkan, CNN melaporkan telah mencoba menghubungi pihak Crown New Materials Technology untuk dimintai tanggapan lebih lanjut.
Dengan mengoperasikan empat pabrik manufaktur di Tiongkok dan satu pabrik di Vietnam, perusahaan ini mengkhususkan diri pada pembuatan komponen perekat untuk berbagai produk ritel-mulai dari struktur atap kendaraan hingga semikonduktor pada ponsel pintar.
Lonjakan saham perusahaan ini terjadi di tengah kondisi pasar modal Tiongkok yang sebenarnya sedang tertekan akibat melemahnya konsumsi masyarakat serta kekhawatiran atas potensi jatuhnya sektor kecerdasan buatan. Sejak mencapai puncaknya pada Juni lalu, indeks saham utama Tiongkok telah merosot lebih dari 20%, yang menandai masuknya pasar ke fase bearish.
Guna menstabilkan kondisi ekonomi, pemerintah Tiongkok menyuntikkan dana sebesar US$19 miliar ke dalam exchange-traded funds (ETF) dua minggu lalu. Menurut data Bloomberg, langkah tersebut merupakan intervensi terbesar Beijing sejak awal 2025 ketika kebijakan tarif impor dari Presiden AS Donald Trump sempat mengguncang pasar keuangan global.
(nvc/dhn)