Liputan6.com, Jakarta - Presiden Kelima Indonesia yang juga menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, berziarah ke makam adik bungsunya, Guruh Soekarnoputra, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (4/11/2026) sore.
Megawati tiba di TPU Tanah Kusir dan disambut putranya yang juga Ketua DPP PDIP, M. Prananda Prabowo, bersama istrinya, Nancy Prabowo. Turut hadir keponakannya, Puti Guntur Soekarno, serta sejumlah anggota keluarga besar Bung Karno. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno juga menyambut kedatangan Megawati.
Setibanya di area pemakaman, Megawati berjalan perlahan menuju pusara dengan menggandeng tangan Prananda, yang akrab disapa Mas Nanan. Prananda kemudian mempersilakan ibundanya duduk di kursi yang telah disiapkan di dekat makam Guruh.
Ziarah berlangsung khidmat untuk mengenang 40 hari wafatnya Guruh. Suasana hening menyelimuti prosesi ketika doa dipanjatkan untuk almarhum. Megawati tampak khusyuk mengikuti doa bersama keluarga besarnya.
Di tengah prosesi tersebut, Megawati beberapa kali terlihat mengusap matanya.
Usai pembacaan doa, Megawati terlebih dahulu menaburkan bunga di makam ibundanya, Fatmawati Soekarno, Ibu Negara pertama Republik Indonesia yang dikenal sebagai penjahit bendera pusaka Merah Putih. Megawati kemudian menuangkan air dari botol yang dibawanya ke atas pusara sang ibu.
Setelah itu, dengan kembali menggandeng tangan Prananda, Megawati melangkah menuju makam Guruh. Setibanya di depan pusara sang adik, Megawati mengulurkan tangan dan mengusap nisan kayu yang menandai tempat peristirahatan terakhir Guruh.
Megawati kemudian meminta Prananda menancapkan sejumlah bunga di bagian depan nisan. Prananda menata bunga sedap malam ke dalam pot yang ditempatkan di depan pusara Guruh. Setelah bunga tertata, Megawati menuangkan air dari botol ke atas pusara adik bungsunya tersebut.
Sejumlah pimpinan pusat PDIP juga bergantian menaburkan bunga di makam Guruh setelah prosesi yang dilakukan Megawati dan keluarga selesai.
Kenangan Sang Keponakan
Rombongan kemudian menuju kediaman almarhum di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, untuk mengikuti tahlilan dan doa bersama mengenang kepergian putra bungsu Proklamator RI Soekarno tersebut.
Di kediaman Guruh, puluhan santri telah duduk rapi untuk mengikuti rangkaian doa. Turut hadir Din Syamsuddin yang dijadwalkan menyampaikan ceramah setelah tahlilan.
Sebelum tahlilan yang dipandu Sekretaris Bamusi, Helmi Hidayat, Rommy Soekarno menyampaikan sambutan mewakili keluarga besar.
Dalam sambutannya, Rommy mengungkapkan rasa kehilangan atas wafatnya sang paman yang akrab disapa Pak Lek Guruh. Dia mengenang almarhum bukan hanya sebagai sosok yang dekat dengan keluarga, tetapi juga sebagai figur yang memiliki pemikiran dan kecintaan mendalam terhadap seni, budaya, serta kedaulatan bangsa Indonesia.
"Kepergian Pak Lek Guruh bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Soekarno. Indonesia telah kehilangan seorang maestro, seorang pemikir kebudayaan, sekaligus tokoh yang menjadikan kesenian sebagai medium perjuangan dan pengabdian terhadap bangsa," ujar Rommy dengan nada suara bergetar.
Rommy menegaskan, bagi Guruh, karya seni tidak sekadar menjadi komoditas hiburan atau keindahan visual. Seni ditempatkan sebagai cermin martabat peradaban dan instrumen perjuangan politik berjiwa kebangsaan yang diekspresikan melalui musik, tarian, serta syair-syair sarat nasionalisme.
Menutup sambutannya, Rommy menyampaikan salam perpisahan sekaligus doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
"Panggung kehidupanmu mungkin telah usai, tapi suara, pemikiran, dan karya-karyamu akan terus hidup dalam perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia. Selamat jalan, Pak Lek Guruh. Karyamu abadi, pengabdianmu menjadi bagian dari sejarah bangsa," pungkas Rommy.
Usai sambutan tersebut, acara dilanjutkan dengan tahlilan dan doa bersama. Keluarga besar Bung Karno mengikuti rangkaian acara dengan khusyuk, didampingi puluhan anak yatim yang mengenakan peci dan busana putih.
Megawati tampak duduk di sisi kanan ruangan mengenakan busana bernuansa putih dan selendang. Di dekat jajaran keluarga inti, hadir pula kakak Megawati, Guntur Soekarnoputra, bersama istrinya. Rommy terlihat duduk di barisan depan sambil memegang buku doa. Sementara itu, Kartika Sari Dewi Soekarno turut mengikuti doa bersama di sisi kanan Megawati.
Di hadapan keluarga, puluhan anak yatim duduk bersila di atas karpet bermotif klasik. Mereka memegang Alquran dan buku Yasin sembari mengikuti lantunan doa.
Dalam ceramahnya, Din Syamsuddin membahas kehidupan setelah kematian serta bekal yang perlu dipersiapkan manusia untuk menghadapinya. Dia juga mendoakan Guruh yang meninggal dunia pada usia 73 tahun.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6