Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Rumah-rumah Berhantu di Jepang Menarik Pemburu Properti Murah

Di Jepang, properti yang pernah menjadi lokasi kematian dalam keadaan tragis seringkali dijual atau disewakan dengan potongan harga yang besar.

Detik 5 menit baca 0 komentar
Rumah-rumah Berhantu di Jepang Menarik Pemburu Properti Murah
Foto: Detik

Tokyo -

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di apartemen sewaannya di Tokyo, Ryua percaya bahwa tempat itu berhantu.

"Saat saya datang untuk melihat apartemen ini, ada seorang pria berdiri di sana, menatap saya tajam," katanya.

"Karena agen properti tidak bisa melihatnya, saya sadar dia pasti hantu."

Jika orang lain yang lebih penakut mungkin akan segera meninggalkan apartemen itu dan tidak pernah kembali, Ryua justru memutuskan untuk tetap pindah ke sana.

"Saya memang agak suka melawan arus, jadi saya memutuskan ingin berteman dengan hantu pria yang terus menatap saya itu," tambah Ryua, yang bekerja sebagai aidoru atau penghibur muda dan tidak ingin menyebutkan nama belakangnya.

Empat tahun berlalu dan ia masih tinggal di apartemen yang sama.

Ryua mengatakan bahwa dirinya terus mengalami aktivitas paranormal hampir setiap hari.

Menurut pengakuannya, ia kerap mendengar suara langkah kaki tanpa henti serta suara sang hantu yang berbicara.

Ryua's first floor apartment in Tokyo

Penghuni sebelumnya apartemen Ryua, yang terlihat dalam foto ini, diketahui meninggal karena bunuh diri (BBC)

Meskipun perayaan Halloween kian populer di Jepang dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga Jepang memandang keberadaan hantu dengan serius sepanjang tahun.

Dalam bahasa Jepang terdapat istilah yuurei, yang merujuk pada arwah yang masih bergentayangan dan tidak tenang.

Menurut kepercayaan setempat, yuurei adalah arwah orang-orang yang meninggal dalam keadaan tragis atau penuh kekerasan, seperti korban pembunuhan, mereka yang mengakhiri hidupnya sendiri, atau orang-orang yang meninggal dalam kesepian tanpa ditemani siapa pun.

Jika mereka meninggal di rumahnya sendiri, diyakini arwah mereka akan tetap tinggal di sana.

Bagi para pencari rumah yang tidak percaya takhayul atau tidak mudah merasa ngeri, kondisi ini justru menghadirkan peluang mendapatkan properti dengan harga jauh lebih murah.

Di Jepang, terdapat kategori hunian yang dikenal sebagai jiko bukken, yang berarti properti "berstigma" atau properti yang pernah menjadi lokasi suatu insiden.

Berdasarkan pedoman yang diterbitkan pemerintah Jepang pada 2021, agen properti wajib mengungkapkan jika sebuah rumah pernah menjadi lokasi bunuh diri, pembunuhan, kematian akibat kebakaran, atau kematian yang jasadnya baru ditemukan setelah waktu yang lama.

Untuk properti sewaan, informasi tersebut harus diungkapkan selama tiga tahun. Sementara untuk properti yang dijual, riwayat tersebut harus diberitahukan tanpa batas waktu.

Sebagai perbandingan, di Inggris tidak ada kewajiban hukum untuk mengungkapkan bahwa seseorang pernah meninggal di sebuah properti.

Sementara di Amerika Serikat, aturannya berbeda-beda di setiap negara bagian.

Misalnya, di California penjual wajib mengungkapkan jika ada seseorang yang meninggal di properti tersebut dalam tiga tahun terakhir, sedangkan di Arizona dan Oregon kewajiban tersebut tidak berlaku.

Ryua diberi tahu bahwa seorang pria pernah mengakhiri hidupnya di apartemen yang kini ia tempati.

Riwayat tersebut membuat ia memperoleh potongan hampir 30% untuk sewa kamar studionya yang hanya seluas 25 meter persegi di Setagaya, salah satu kawasan populer di Tokyo.

Ia mengatakan membayar sewa sebesar 45.000 yen (sekitar US$285) per bulan, dibandingkan tarif normal yang seharusnya mencapai 62.000 yen.

Meski rumah yang pernah menjadi lokasi pembunuhan atau bunuh diri kemungkinan akan lebih sulit dijual atau disewakan di mana pun di dunia, agen properti di Tokyo, Erik Oskamp, mengatakan bahwa masyarakat Jepang cenderung lebih percaya pada takhayul dan lebih enggan menempati properti yang memiliki stigma semacam itu.

"Bahkan apartemen yang berada di sebelah pemakaman akan sulit disewakan, terutama jika batu-batu nisan terlihat dari dapur," jelas Oskamp.

"Hal terburuk adalah jika pernah terjadi bunuh diri di apartemen tersebut. Bahkan jika seseorang melompat dari atap gedung, banyak penyewa akan memilih pindah. Faktor lain yang memengaruhi adalah kejahatan serius atau kematian seseorang yang hidup sendirian."

Kategori terakhir, yaitu seseorang yang meninggal seorang diri di rumahnya dan baru ditemukan setelah beberapa waktu, umumnya tidak akan memengaruhi harga properti di negara seperti Inggris atau Amerika Serikat.

Namun di Kagoshima, wilayah pedesaan di barat daya Jepang, kondisi seperti itu memungkinkan Diane Tincher membeli sebuah rumah besar dengan tiga kamar tidur dengan harga sekitar setengah dari nilai yang seharusnya.

'Jika memang ada hantu, saya berterima kasih kepadanya'

Warga Amerika berusia 79 tahun itu telah tinggal di Jepang selama hampir 40 tahun dan bekerja sebagai pemandu wisata.

Ia mengatakan bahwa agen properti sejak awal bersikap terus terang kepadanya: rumah tersebut dijual dengan potongan harga besar karena seorang perempuan lanjut usia meninggal seorang diri di sana, sehingga properti itu mendapat stigma.

Tincher membeli rumah tersebut seharga 20 juta yen, di kawasan tempat properti serupa biasanya dijual dengan harga hingga 45 juta yen.

"Saya tidak percaya pada hantu. Tetapi saya tahu orang Jepang sangat percaya takhayul," katanya.

"Jika memang ada hantu di rumah ini, saya bersyukur kepadanya setiap hari... karena saya bisa tinggal di rumah yang begitu indah dengan harga yang terjangkau."

Diane Tincher smiles at the camera. She is wearing a blue shirt and standing in her garden

Diane Tincher mengatakan ia memperoleh diskon 50% saat membeli rumahnya di pedesaan Jepang (Diane Tincher)

Saat menelusuri informasi mengenai rumah tersebut, Tincher menemukannya melalui sebuah situs bernama Oshimaland, yang mencantumkan properti-properti jiko bukken beserta rincian kejadian yang pernah terjadi di sana.

Situs itu diluncurkan pada 2005 dengan fokus awal pada wilayah Tokyo, sebelum diperluas ke seluruh Jepang dan kemudian ke pasar internasional pada 2011.

Oshimaland mengandalkan kontribusi pengguna (crowdsourced), yang berarti anggota masyarakat dapat menambahkan data properti beserta informasi terkait riwayat kejadian yang terjadi di lokasi tersebut.

Teru Oshima, pendiri Oshimaland, mengatakan bahwa di masa lalu properti semacam itu "bukan pilihan yang terlalu menarik" bagi masyarakat Jepang.

Namun, seiring melonjaknya harga rumah dalam beberapa tahun terakhir serta meningkatnya biaya hidup secara umum, sikap masyarakat mulai berubah. Sebuah survei pada 2025 menemukan bahwa lebih dari separuh warga Jepang kini bersedia menyewa jiko bukken apabila harga sewanya lebih murah.

Kembali ke Setagaya, Ryua mengatakan dirinya bahagia hidup bersama "teman serumah" yang ia yakini sebagai hantu.

"Saya percaya bahwa hantu dulunya adalah manusia yang hidup seperti kita, jadi mereka layak mendapatkan rasa hormat," katanya.

(nvc/nvc)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.