Liputan6.com, Jakarta - Sektor ketenagalistrikan menghadapi tantangan untuk menekan emisi karbon di tengah kebutuhan pasokan listrik yang terus meningkat. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah pemanfaatan bahan bakar alternatif untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, termasuk gas alam dan batu bara.
Energi alternatif tersebut di antaranya adalah hidrogen dan amonia, kedua energi tersebut sedang dikembangkan pemanfaatannya.
Hidrogen digunakan sebagai energi untuk mengurangi konsumsi gas (cofiring hidrogen) pada pembangkit listrik berbahan bakar gas. Amonia dijadikan energi untuk mengurangi konsumsi batubara (cofiring amonia) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Pemanfaatan energi alternatif tersebut dilakukan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) dengan melakukan pengujian cofiring hidrogen PLTDG Pesanggaran Bali dam amonia di PLTU Labuan Banten.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, mengatakan, pengembangan teknologi alternatif bahan bakar merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam menjawab tantangan transisi energi yang bertujuan untuk menekan emisi, dengan tetap memperhatikan keandalan dan efisiensi pembangkit.
“Transisi energi membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan tetap mengedepankan keandalan pasokan listrik. Pengujian cofiring hidrogen dan amonia menjadi langkah PLN Indonesia Power dalam mengembangkan alternatif bahan bakar yang berpotensi menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pembangkitan," kata Bernadus, dilansir Antara, Kamis (29/10/2026).
Uji Hidrogen dan Amonia Berpotensi Tekan Emisi
Dari pengujian cofiring hidrogen di PLTG Pesanggaran, dengan campuran gas hidrogen 23 persen berpotensi penurunan emisi karbon sebesar 9.600 ton CO₂ per tahun, peningkatan efisiensi mesin hingga 5 persen dan pengurangan pemakaian bahan bakar fosil hingga 17 persen.
Untuk pengujian cofiring amonia di PLTU Labuan, dengan rasio campuran amonia sebesar 1 persen, teknologi ini menunjukkan potensi perbaikan efisiensi PLTU hingga 1,3 persen, penghematan konsumsi batu bara sekitar 19.700 ton per tahun, serta penurunan emisi karbon hingga 1,8 persen. Pengujian tersebut juga menunjukkan potensi penurunan emisi tahunan PLTU hingga 35.000 ton.
Untuk mendukung pengembangan cofiring amonia, amonia hijau dikembangkan melalui pemanfaatan ekses hidrogen dari PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok sebagai sumber bahan baku.
Pengembangan ini membuka peluang pemanfaatan potensi hidrogen dalam ekosistem pembangkitan, sekaligus memperkuat keterkaitan inovasi teknologi antarpembangkit dalam mendukung agenda transisi energi.
Menurut Bernadus, pengembangan cofiring hidrogen dan amonia sebagai bagian dari upaya diversifikasi bahan bakar dan pengurangan emisi sektor pembangkitan. Ke depan, pengembangan teknologi akan terus diarahkan melalui kajian, pengujian, dan evaluasi teknis dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, keandalan, efisiensi, serta kelayakan implementasi.
"Kami terus mendorong pengembangan teknologi ini melalui pengujian dan evaluasi agar manfaatnya dapat dioptimalkan secara berkelanjutan,” ujar Bernadus.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6