Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Gubernur (Wagub) Jateng, Taj Yasin Maimoen meninjau langsung pembangunan hybrid seawall atau tanggul pantai di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak pada Selasa (27/10).
Infrastruktur yang didanai APBD Provinsi Jawa Tengah 2026 sebesar Rp10 miliar itu diharapkan mampu mengurangi dampak banjir rob dan abrasi, serta membuka peluang bagi masyarakat untuk kembali mengelola tambak dan menggerakkan perekonomian pesisir.
Taj Yasin mengatakan, pembangunan tanggul pantai perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya bagi warga yang selama bertahun-tahun dirugikan oleh dampak rob dan sedimentasi. Kondisi itu diyakini telah menghambat aktivitas ekonomi, termasuk kegiatan budidaya perikanan di kawasan tambak.
Wagub juga mengapresiasi sambutan masyarakat terhadap kehadiran tanggul pantai di daerahnya. Infrastruktur itu dirancang tidak hanya mengandalkan konstruksi beton, tetapi juga mendukung pertumbuhan mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menjelaskan bahwa pembangunan tanggul pantai memiliki target penanganan sepanjang 930 meter. Panjang tersebut terdiri atas bangunan utama sepanjang 720 meter dan struktur groin atau pemecah gelombang sepanjang 210 meter.
Pekerjaannya sendiri dibagi menjadi dua paket, masing-masing mencakup 362 meter bangunan utama dan 105 meter groin. Secara keseluruhan, konstruksi tersebut menggunakan 8.500 buah buis beton.
Berdasarkan laporan per 25 Oktober 2026, progres Paket I telah mencapai 56,212 persen, sedangkan Paket II mencapai 65,822 persen. Pekerjaan tersebut memiliki masa pelaksanaan selama 175 hari, terhitung sejak 5 Juni hingga 26 November 2026.
Pemprov Jateng juga melakukan berbagai upaya untuk melindungi kawasan pesisir, salah satunya melalui program Mageri Segoro. Sepanjang 2025, program tersebut mencatat penanaman sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare di kawasan pesisir Jawa Tengah.
Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, menyampaikan apresiasi atas pembangunan tanggul pantai ini. Ia optimistis, tanggul ini akan membantu masyarakat menghadapi persoalan abrasi.
Manfaat bahkan telah mulai dirasakan warga. Supriyanto menjelaskan, sebelumnya air yang masuk ke kawasan hunian kerap dimanfaatkan masyarakat.
Kini, keberadaan struktur pelindung pantai dan penanganan tanggul memberikan harapan terhadap kondisi kawasan yang lebih aman.
Supriyanto menilai, manfaat program akan semakin luas apabila pembangunan dapat dilanjutkan hingga menjangkau wilayah pesisir yang masih membutuhkan perlindungan.
"Dengan adanya kegiatan hybrid seawall ini, insyaallah masyarakat bisa lebih aman dari abrasi. Program ini sangat membantu meringankan penderitaan masyarakat kami yang selama bertahun-tahun terdampak abrasi," ujarnya.
Ia memaparkan, pembangunan tahap pertama baru menjangkau sekitar 900 meter, sementara wilayah ke arah timur masih membutuhkan penanganan sekitar 1,5 kilometer. Jika perlindungan pantai dapat tersambung, manfaatnya diperkirakan tidak hanya dirasakan warga Desa Surodadi, tetapi juga masyarakat di kawasan sekitarnya.
Pembangunan perlindungan pantai ini dinilai penting untuk membantu memulihkan kondisi lingkungan, serta mendukung kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Pemerintah juga disebut telah menyosialisasikan program tersebut, termasuk bagi pemilik lahan di sekitar lokasi maupun mereka yang tidak mempunyai tambak. Program ini menjadi upaya pemerintah membantu mengurangi beban masyarakat akibat bencana pesisir.
(rea/rir)