JawaPos.com - TNI kembali mengirim ratusan prajurit penyuluh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Total sebanyak 289 personel diterbangkan dari Pangkalan Udara (Lanud) Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Rabu (4/11).
Menurut Perwira Staf Ahli Tingkat III Bidang Manajemen Penanggulangan Bencana Panglima TNI Laksamana Muda TNI Donny Suharto, pengerahan ratusan prajurit tersebut dilakukan sesuai dengan arahan dari Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Donny menyebut, pengerahan pasukan itu adalah bagian dari penyiapan 1.300 personel penyuluh pada tahap lanjutan. Sebelumnya, TNI sudah mengerahkan lebih kurang 1.500 personel pada Agustus 2026. Kali ini, para prajurit diminta fokus di 3 provinsi.
Ketiga daerah tersebut adalah Sumatera Selatan (Sumsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel). Sasarannya memastikan pengerahan prajurit penyuluh karhutla bisa memperkuat pencegahan di berbagai wilayah terdampak.
”Ini merupakan reaksi cepat sesuai arahan presiden kepada panglima TNI, agar TNI kembali menurunkan Tim Penyuluh Pencegahan Karhutla ke wilayah terdampak, khususnya Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan,” kata Donny pada Rabu.
Secara terperinci, Donny mengungkapkan bahwa 289 personel Seskoad yang diberangkatkan dari Bandung hari ini terdiri atas 264 perwira siswa (pasis) dan 25 perwira pendamping (paping). Mereka diterbangkan melalui 4 sortie penerbangan berbeda.
Sebanyak 80 personel menuju Palembang pada pukul 08.00 WIB, 63 personel menuju Palangka Raya pada pukul 08.30 WIB, 63 personel menuju Palangka Raya pada pukul 12.00 WIB, serta 83 personel menuju Banjarmasin pada pukul 12.30 WIB.
Sebelum diberangkatkan, ratusan personel tersebut menerima pembekalan dan arahan dari Donny. Mereka dibekali masker, buku saku, dan leaflet sebagai perlengkapan pendukung pelaksanaan penyuluhan di daerah penugasan masing-masing.
Dalam pembekalan tersebut, Donny menekankan bahwa keberhasilan penyuluhan tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan atau angka peserta, melainkan harus dipastikan dapat menghasilkan perubahan perilaku masyarakat dalam mencegah terjadinya karhutla.