Caracas -
Pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, disambut ribuan pendukung di Caracas pada Minggu (25/10) setelah kembali dari pengasingan yang berlangsung selama hampir setahun.
Lanjutkan dari posisi terakhir
Peraih Nobel Perdamaian, Maria Corina Machado, yang juga tokoh oposisi Venezuela kembali negaranya setelah hampir setahun berada di pengasingan.
Caracas -
Pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, disambut ribuan pendukung di Caracas pada Minggu (25/10) setelah kembali dari pengasingan yang berlangsung selama hampir setahun.
Para pendukung berjejer di sepanjang jalan raya, gerbang tol, hingga jalan-jalan kota. Mereka mengibarkan bendera Venezuela dan meneriakkan slogan "kebebasan" saat iring-iringan mobil dan sepeda motor yang membawa Machado bergerak menuju ibu kota.
Mengenakan kaus putih dan celana jins biru yang menjadi ciri khasnya, Machado menyembulkan tubuh dari atap mobil saat memasuki Caracas.
"Negara ini sedang memberi pelajaran kepada semua orang," serunya.
Sebelumnya, di kota Guacara, kantor berita AFP melaporkan bahwa Machado menyanyikan lagu kebangsaan di sebuah alun-alun yang dipadati pendukung. Mereka mengibarkan bendera dan bersorak menyambut kepulangannya.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menanggapi kepulangan Machado dengan kritik. Dalam pernyataan kepada wartawan yang jarang ia berikan, Rodriguez mengatakan Machado seharusnya bisa pulang tanpa penyambutan meriah seperti itu.
"Pertunjukan itu sebenarnya bisa dihindari. Bandara ada di sini," kata Rodriguez dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.
Sebelumnya, juru bicara Machado menyatakan bahwa pemimpin oposisi itu bersedia duduk bersama pemerintah Venezuela untuk berdialog.
Machado meninggalkan Venezuela pada Desember tahun lalu untuk menerima Nobel Perdamaian atas perjuangannya mendorong demokrasi di negara yang berada di bawah pemerintahan otoriter tersebut.
Menghadapi ancaman penangkapan oleh pemerintahan Presiden Nicolas Maduro saat itu, Machado berlindung di Kedutaan Besar Argentina di Caracas. Ia kemudian diselundupkan keluar dari Venezuela dengan bantuan Amerika Serikat.
Pada awalnya, Machado tidak bisa pulang karena khawatir akan ditahan oleh pihak berwenang.
Setelah Maduro digulingkan dan ditangkap dalam operasi yang dipimpin AS, Machado menyerahkan medali Nobel miliknya kepada Presiden AS Donald Trump.
Namun, pemerintahan Trump juga menjadi salah satu faktor yang membuat kepulangan Machado tertunda begitu lama. Alih-alih mendukung Machado, AS memilih mendukung Rodriguez.
Machado mengatakan dirinya menghadapi pembatasan perjalanan dan pembatalan penerbangan. Menurutnya, hambatan itu sebagian dipicu kekhawatiran Trump bahwa kehadirannya di Venezuela dapat memperuncing ketegangan selama masa transisi. Ia juga menyebut campur tangan Rodriguez sebagai penyebab lainnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu
Editor: Adelia Dinda Sani
(nvc/nvc)
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.