JawaPos.com - Konten kreator Herri Pras menolak ajakan duel maut saat digeruduk rumahnya di kawasan Bogor oleh rombongan petarung MMA Yudi Cahyadi. Ia berkali-kali menyebut syaratnya belum terpenuhi.
Lantas, apa syarat yang diajukan Herri untuk duel dapat terjadi dengannya?
Dalam video yang diunggahnya di media sosial, Herri sebenarnya mensyaratkan pembuktian terhadap kapasitas keilmuan Ustaz Adi Hidayat (UAH), Ustaz Abdul Somad (UAS), hingga Habib Umar bin Hafiz sebelum bersedia menyepakati duel tanpa aturan.Â
"Kalau terbukti mereka ulama yang lurus, yang hak menyampaikan kebenaran dan saya terbukti salah, kita masuk ke kesepakatan kedua: fight no rules sampai salah satu mati," ujarnya dalam salah satu video, dikutip Senin (2/11).
Ia mengaku tidak memiliki ambisi mengalahkan siapa pun di arena pertarungan karena fokusnya adalah memberantas takhayul, bidah, syirik, dan khurafat di Indonesia.
"Mereka bukan praktisi bela diri, mereka olahragawan. Mereka olahragawan yang di mana ingin mengunggulkan dirinya di antara yang lain, dan berkedok atau beralibi ingin membela ulama," kata Herri.
Menurut Herri, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui adu kekuatan fisik. Ia menilai tokoh agama yang menjadi pokok perdebatan harus bisa diuji kapasitas keilmuannya agar masyarakat dapat mengetahui kebenaran klaim mengenai kepakaran mereka.
Karena itu, Herri mengaku telah menyiapkan tim hukum dan tim riset untuk membuat kesepakatan tertulis dengan Yudi. Kesepakatan tersebut mencakup pembuktian terhadap kepakaran para tokoh agama yang dibela Yudi sebelum kedua pihak bertarung.
Herri menyatakan, apabila hasil pengujian membuktikan bahwa para tokoh tersebut merupakan ulama yang lurus dan berhak menyampaikan kebenaran, sementara dirinya terbukti salah, ia bersedia melanjutkan kesepakatan duel.