JawaPos.com - Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan penggunaan artificial intelligence (AI) di bidang pendidikan berdasarkan data Consumer Insight Statista.
Hal itu mengkhawatirkan karena penggunaan AI berlebih bisa membuat kemampuan berpikir menurun.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie memaparkan tiga hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI untuk memperoleh jawaban instan dapat berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
"Jadi, tiga-tiga bukti sains ini semuanya paper yang sudah dipublikasikan, memperlihatkan penggunaan AI membuat kemampuan berpikir manusianya menurun, bukan meningkat,” kata Stella dikutip dari akun Instagramnya, Rabu (4/11).
Bukti pertama yang disampaikan Stella merujuk pada riset Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang membandingkan skor sains berdasarkan frekuensi penggunaan AI.
Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan pengguna yang jarang atau tidak pernah menggunakan AI memiliki skor sains lebih tinggi dibandingkan mereka yang menggunakannya setiap hari.
Bukti kedua berkaitan dengan penelitian yang membandingkan penggunaan AI untuk memberikan jawaban langsung atau GPT Base dengan AI sebagai tutor belajar atau GPT Tutor.
Hasilnya menunjukkan penggunaan GPT Base meningkatkan performa sebesar 48 persen, sedangkan GPT Tutor meningkatkan performa hingga 127 persen selama proses belajar.
Namun, hasilnya berbeda ketika peserta diuji tanpa bantuan AI. Stella menjelaskan, kemampuan peserta yang menggunakan AI sebagai tutor kembali setara dengan kelompok yang tidak menggunakan AI.
Sementara itu, kelompok yang terbiasa menerima jawaban langsung dari AI mengalami penurunan performa sebesar 17 persen.