Pekerja mengangkut bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati. (Salman Toyibi/Dok. Jawa Pos)
JawaPos.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi dua jalur untuk mengejar target swasembada bawang putih dalam tiga tahun ke depan. Strategi tersebut mencakup percepatan budidaya melalui pendampingan petani serta penguatan riset untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet mengatakan, pengembangan bawang putih harus didukung kesiapan lokasi, teknologi yang dapat diterapkan, serta peningkatan keterampilan petani. Kolaborasi lintas lembaga juga diperlukan agar program berjalan secara terukur.
"Langkah ini diarahkan untuk memastikan program berjalan di lokasi yang tepat, didukung teknologi siap pakai, serta mampu meningkatkan keterampilan petani dan produktivitas secara berkelanjutan," kata Alim di Jakarta, Sabtu (31/10).
Menurut Alim, program pengembangan bawang putih tidak boleh hanya mengandalkan potensi yang belum teruji. Teknologi dan inovasi yang dipilih harus benar-benar siap diterapkan di lapangan.
"Yang kita butuhkan adalah inovasi yang betul-betul siap diterapkan, bukan yang masih sebatas potensi. Karena skalanya besar, kita harus memastikan teknologi dan rencana yang dipilih benar-benar bisa mendukung pencapaian target," ujarnya.
Jalur pertama difokuskan pada percepatan budidaya. Kegiatannya meliputi penetapan lokasi pengembangan, penyusunan kalender tanam, pemetaan kebutuhan petani, serta pendampingan teknis.
Alim meminta lokasi dan jadwal tanam dirinci agar dukungan pemerintah dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Kesiapan petani dalam menerapkan teknik budidaya juga menjadi perhatian utama.
"Ini betul-betul mulai baru, sehingga kita membutuhkan keterampilan baru dari petani. Pendampingan budidaya, peningkatan literasi, dan penguasaan teknologi tepat guna menjadi sangat penting," katanya.
Sementara itu, jalur kedua diarahkan pada penguatan riset dan kajian untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, serta daya saing bawang putih nasional.
Sejumlah aspek yang akan dikaji meliputi pengembangan varietas unggul, perbaikan teknologi budidaya, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, dan efisiensi penggunaan sarana produksi.