Kyiv -
Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Muhammad Taufiq (48) yang direkrut menjadi tentara Rusia tewas dalam pertempuran di Ukraina. Ia tewas setelah menerima pelatihan militer selama kurang lebih 1,5 minggu saja.
Dilansir dari situs Kementerian Pertahanan Ukraina seperti dilihat pada Jumat (30/10/2026), menurut Direktorat Utama Intelijen Pertahanan Ukraina (HUR), Taufiq tinggal di Surabaya, Jawa Timur.
Sebelum bergabung dengan militer Rusia, ia pernah bekerja sebagai pengemudi taksi di Jakarta dan sebagai manajer di sebuah perusahaan pertanian. Taufiq juga pernah bekerja di Amerika Serikat dan mampu berbahasa Inggris.
Perekrut Rusia kemudian menghubungi Taufiq setelah mendapatkan CV yang ia kirimkan saat mencari pekerjaan. Para penyelidik menduga ia menerima tawaran tersebut karena adanya janji penghasilan yang relatif mudah didapat.
Pada kenyataannya, sebut laporan tersebut, ia menjadi korban berikutnya dari skema penipuan perekrutan warga asing oleh Rusia untuk terlibat dalam perang ilegal.
Pada 19 April 2026, Taufiq menandatangani kontrak militer berdurasi satu tahun di Korolyov, sebuah kota di dekat Moskow. Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut masa dinas berdurasi satu tahun adalah jangka waktu umum bagi warga negara asing yang direkrut Rusia untuk ikut serta dalam perang melawan Ukraina dan dimanfaatkan sebagai pasukan infanteri 'sekali pakai'.
Taufiq kemudian ditugaskan sebagai penembak senapan mesin dan dikirim ke fasilitas pelatihan militer di dekat Voronezh. Taufiq hanya menjalani pelatihan selama kurang lebih 1,5 minggu.
Taufiq kemudian dipindahkan ke wilayah Ukraina yang diduduki Rusia pada awal Mei. Taufiq tewas dalam pertempuran pertamanya saat pasukan Rusia berupaya bergerak maju dari Zelena Dolyna menuju Novoselivka dan Drobysheve di wilayah Donetsk.
Intelijen Pertahanan Ukraina secara berkala mempublikasikan bukti-bukti perekrutan tentara bayaran asing oleh Rusia.
detikcom telah menghubungi Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Christiawan Nasir, Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Heni Hamidah dan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela untuk mengkonfirmasi berita ini. Namun hingga berita ini turun, ketiganya belum merespons.
(isa/imk)