Jakarta -
Sebanyak 186 dapur perebusan garam permanen dibangun di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, untuk memulihkan aktivitas produksi petambak yang terdampak bencana. Program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini diharapkan membantu petambak kembali bekerja sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
"Harapan kita tentunya dengan besaran dapur tungku perebusan, akan tentunya akan meningkatkan hasil," ujar Kepala Dinas Perikanan Aceh Utara Syarifuddin dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).
Pembangunan dapur perebusan tersebut tersebar di empat kecamatan. Salah satu lokasi penerima bantuan berada di Desa Teupin Kuyun, Kecamatan Seunuddon, dengan alokasi sebanyak 53 unit.
Di desa tersebut, dapur permanen dibangun dengan ukuran 4 × 6 meter untuk menggantikan fasilitas lama yang rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Fasilitas baru ini diharapkan mendukung proses pengolahan garam sekaligus meningkatkan kapasitas produksi petambak setelah aktivitas mereka terganggu akibat bencana.
Selain memulihkan fasilitas produksi, pembangunan dapur permanen juga diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas garam rakyat. Dinas Perikanan Aceh Utara mendorong kadar natrium klorida (NaCl) pada garam meningkat dari sekitar 94 persen menjadi di atas 96 persen.
Saat ini, harga garam di tingkat petambak berkisar Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram. Peningkatan mutu diharapkan dapat mendongkrak nilai jual sekaligus memperluas peluang pemasaran garam lokal.
"Tapi ke depan kalau ini bisa kita kembangkan saya kira tidak tertutup kemungkinan bahwa garam kita juga bisa kita hasilkan untuk kebutuhan industri dan farmasi," ujarnya.
Seluruh pembangunan dapur perebusan garam ditargetkan rampung pada Desember 2026, dengan catatan kondisi cuaca mendukung. Penyelesaian fasilitas ini dinantikan para petambak yang kehilangan sarana produksi akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025.
Salah satunya Abdullah, petambak garam di Desa Teupin Kuyun. Dapur perebusan miliknya hancur akibat bencana sehingga ia tidak dapat melanjutkan pekerjaan. Kini, Abdullah berharap pembangunan dapur permanen segera selesai agar bisa kembali menjalankan usaha.
"Alhamdulillah ada bantuan untuk kami semua petambak garam. Sudah lama tidak bekerja selama banjir," kata Abdullah.
(ega/akn)