Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah tetap berlanjut dengan memperketat aspek keselamatan usai kecelakaan helikopter di Sungai Barito, Kalimantan Selatan.
"Kami ingin menegaskan bahwa kejadian ini tidak mengurangi komitmen pemerintah untuk terus melakukan penanganan karhutla. Operasi pemadaman tetap harus berjalan, tetapi harus dilaksanakan dengan memerhatikan aspek keselamatan secara ketat," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers daring yang diikuti di Jakarta, Minggu (8/11), dikutip dari Antara.
Sebelumnya, helikopter jenis Super Puma H-225 dengan registrasi VH-HGM diduga jatuh di perairan Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Minggu (8/11).
Data terbaru yang diterima BNPB menyebutkan bahwa dari tiga awak helikopter itu, dua orang yang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Keduanya adalah pilot berkewarganegaraan Australia. Mereka kini telah mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, satu awak lainnya yang bertugas sebagai Helicopter Landing Officer (HLO), Yayan Supyansuri, warga negara Indonesia, hingga saat ini masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Berton pun telah menyampaikan bahwa Basarnas Kantor SAR Banjarmasin telah memberangkatkan tim penyelamat yang terdiri dari 18 personel pada pukul 13.10 WITA.
[Gambas:Video CNN]
Operasi pencarian turut melibatkan unsur TNI AU, Polri, Babinsa, dan masyarakat setempat. BNPB menegaskan prioritas utama saat ini adalah operasi pencarian korban hilang, pemulihan kesehatan pilot yang selamat, serta pengamanan bangkai helikopter di tepian sungai.
Selain itu, BNPB juga berkomitmen memfasilitasi investigasi resmi dari pihak berwenang guna mengetahui penyebab pasti kecelakaan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Sebagai langkah tindak lanjut, BNPB akan melakukan evaluasi keselamatan operasi udara secara menyeluruh. Evaluasi tersebut meliputi kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air (water bombing), kelaikan awak pesawat, hingga faktor cuaca dan karakteristik lokasi.
(antara/fra)