Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat riset vaksin malaria. Prabowo ingin pengembangan vaksin tersebut dapat selesai tiga tahun lebih cepat dari target awal.
"Pak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Nah kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya," kata Kepala BRIN Arif Satria usai bertemu Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Arif mengatakan BRIN saat ini memiliki empat kandidat vaksin malaria yang sedang diteliti. Secara nasional, terdapat sekitar lima hingga enam kandidat vaksin malaria yang dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak.
"Jadi vaksin ini khususnya malaria, ini saat ini riset di BRIN sedang kita lakukan dan BRIN memiliki empat kandidat vaksin. Dan seluruhnya di Indonesia ada kurang lebih sekitar lima atau enam kandidat vaksin, dan kami berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk dengan Kementerian Kesehatan, kemudian juga dengan Bio Farma," jelasnya.
Arif menuturkan Prabowo akan memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan vaksin, khususnya untuk malaria. Ia menjelaskan, vaksin komersial untuk malaria akibat parasit Plasmodium vivax hingga kini belum tersedia secara global.
Prabowo ingin riset vaksin malaria yang dilakukan BRIN dipercepat agar dapat segera dikembangkan dan diproduksi. Menurut Arif, hal itu juga menjadi peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam penanganan malaria di dunia.
"Jadi Bapak Presiden tadi menekankan apa sumbangan kita untuk dunia juga. Karena malaria tidak hanya di Indonesia, tapi vaksinnya di dunia tidak ada. Nah oleh karena itu, kita bisa memberikan kontribusi untuk kesejahteraan masyarakat di dunia," tutur Arif.
Â
Prabowo Dorong Pengembangan Obat Herbal
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo juga mendorong pengembangan dan kemandirian obat herbal. Arif menyebut BRIN memiliki 19 kandidat obat herbal yang diarahkan untuk menjadi fitofarmaka, yakni obat berbahan alam yang telah melalui uji praklinis dan uji klinis.
"Obat herbal ini saya kira sangat potensial dan BRIN sudah juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses obat herbal ini. Dan saat ini di BRIN sendiri ada 19 kandidat obat herbal untuk masuk pada fitofarmaka," ujar dia.
Arif mengatakan sejumlah obat herbal yang dikembangkan BRIN masih berada pada tahap Obat Herbal Terstandar (OHT). BRIN masih melakukan berbagai tahapan uji klinis agar obat-obatan tersebut dapat memenuhi persyaratan menjadi fitofarmaka.
"Untuk menuju pada fitofarmaka butuh berbagai uji, uji klinis ya. Dan saat ini sedang kita lakukan, kita akan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan juga BPOM untuk melakukan percepatan ini," pungkas Arif.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6