Liputan6.com, Jakarta - Dalam kondisi perekonomian yang tidak stabil, frugal living yang biasa dijalankan para kelas menengah sebagai gaya hidup, kini bergeser maknanya menjadi sebuah mekanisme cara bertahan hidup agar finansial tidak terguncang. Strategi defensif dengan mengurangi beberapa pos pengeluaran yang dirasa tidak terlalu penting ini, membawa kelas menengah untuk berpikir ulang tentang aspek esensial dari suatu barang.
Data Mandiri Spending Index (MSI) terbaru September 2026, menangkap gejala frugal living yang turunannya berupa fenomena downgrade lifestyle di kalangan kelas menengah sudah terjadi secara massif di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan adanya perlambatan tren belanja masyarakat yang terjadi pada kuartal III tahun 2026. Data MSI menyebut, pertumbuhan belanja sebesar 5,9% secara tahunan (year on year/YoY), ini lebih rendah dibandingkan dengan dua kuartal sebelumnya.
Data tersebut juga menjelaskan, indeks belanja masyarakat berada di level 122,9 pada minggu keempat September, atau turun -0,35% secara mingguan. Terjadi kontraksi selama enam minggu berturut-turut yang menunjukkan adanya penurunan daya beli di masyarakat yang berkelanjutan. Level MSI saat ini setara dengan akhir Mei. Pola ini berbeda dari 2025, ketika belanja mulai meningkat sejak awal September.
Sementara itu, secara bulanan data MSI September 2026 mencatat, pertumbuhan belanja ambles dari 6,5% di akhir Agustus menjadi 5,6% di minggu keempat September. Dari data tersebut bisa dijelaskan bahwa dalam satu bulan saja, pertumbuhan belanja kehilangan momentum sekitar 1% poin.
Data angka 5,5% ini adalah pertumbuhan terendah dalam 10 bulan terakhir atau sejak November 2025. Hal ini menegaskan bahwa pelemahan belanja sudah menjadi tren penurunan bulanan yang nyata.
Data MSI selanjutnya mencatat, dari sisi wilayah, pertumbuhan belanja tertinggi ada di Sulawesi dengan 7,7% YoY, kemudian Maluku dan Papua sebesar 7,5%, diikuti Kalimantan 6,9%. Peningkatan terbesar jika dibandingkan tahun lalu terjadi di Balinusra sebesar sekitar 4,5 poin presentase (ppt), kemudian Maluku dan Papua sebesar 4,3 ppt, lalu Jawa sebesar 3,5 ppt.
Di tengah pelambatan tren belanja, data MSI selanjutnya mencatat adanya pola perubahan konsumsi yang terjadi di masyarakat ke belanja yang lebih selektif. Belanja untuk mobilitas tumbuh 6,6% YoY, jauh lebih tinggi dibanding 2,6% pada 2025. Belanja konsumsi atau consumer goods juga meningkat dari 2,5% menjadi 4,4%, sementara belanja rumah tangga (household) tumbuh 1,8% setelah terkontraksi 0,8% pada tahun sebelumnya.
Sebaliknya, belanja rekreasi (leisure) cenderung stagnan, berbeda dengan pertumbuhan sebesar 3,7% pada 2025. Hal ini menunjukkan belanja masyarakat lebih terkonsentrasi pada kebutuhan rutin dan mobilitas, sementara pengeluaran untuk rekreasi masih terbatas.
Sementara dari kelompok belanja kebutuhan sehari-hari (stronger essentials), data MSI terbaru mengungkap, supermarket mencatat adanya pertumbuhan 4,5% YoY. Belanja fashion juga mengalami peningkatan menjadi 3,1% dari 2,4%. Sedangkan belanja restauran tumbuh tertinggi sebesar 4,7%, namun masih lebih rendah ketimbang tahun lalu yang 6,1%.
Pada kategori mobilitas (only essential mobility holds), belanja otomotif mengalami pertumbuhan 6,3% YoY dan belanja bensin 7,1%, tumbuh lebih tinggi dibanding tahun lalu yaitu 4,6% dan 6,5%. Sebaliknya, belanja transportasi melambat ke 10,0% dari 13,7% pada tahun sebelumnya. Sedangkan belanja tiket pesawat stagnan, turun dari 0,5% pada 2025.
Terakhir, data MSI mencatat kondisi keuangan masyarakat kelas bawah makin tertekan. Per 27 September 2026, MSI mencatat adanya penurunan indek tabungan kelompok bawah menjadi 68,7. Sementara, indeks tabungan kelompok menengah relatif stabil di level 100,5, turun tipis 0,1% secara bulanan. Sementara kelompok atas meningkat ke 95,1 (1,1% MoM) dan lebih tinggi dari level tahun lalu (94,0). Hal ini menunjukkan, adanya perkembangan tabungan yang belum merata di masyarakat. Penurunan indeks tabungan di kelompok masyarakat bawah menjadi sinyal serius untuk melihat makin melemahnya daya beli masyarakat saat ini.
Secara garis besar, data MSI September 2026 menggambarkan bahwa konsumsi rumah tangga saat ini sedang mengalami 'pengereman mendadak', akibat kelas menengah banyak yang menahan belanjanya secara massif. Kondisi ini tentu akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional dalam setahun terakhir.
Kata Pengamat
Tekanan ekonomi nampaknya direspons sebagian masyarakat dengan mengurangi porsi belanjanya, ada yang menyebutnya sebagai berhemat, dan lainnya hidup frugal. Ternyata, penghematan ini bisa dibaca sebagai penurunan daya beli hingga membawa potensi dampak ke pertumbuhan ekonomi.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, melihat pola penghematan yang dilakukan masyarakat saat ini sebagai preferensi maupun penurunan daya beli.
"Konsumen memang makin selektif: belanja non-esensial ditunda, diskon dicari, ukuran pembelian diperkecil, dan dana lebih banyak disimpan sebagai buffer," kata Syafruddin kepada Liputan6.com.
Perubahan pola konsumsi ini menurutnya dipengaruhi oleh ruang finansial masyarakat. Ada hal yang tak sebanding antara kenaikan upah dan inflasi.
Dia mencatat, rata-rata upah buruh naik dari Rp 3,27 juta pada Agustus 2024 menjadi Rp 3,33 juta pada Agustus 2025, hanya 1,94%. Pada Mei 2026 rata-ratanya Rp3,39 juta. Sementara inflasi September 2026 mencapai 3,28% dan inflasi volatile food 5,03%.
Indeks Keyakinan Konsumen September masih optimistis di 118,1, tetapi Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun menjadi 107,5. "Artinya masyarakat belum kehilangan kepercayaan, tetapi semakin hati-hati menghadapi biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan," ucap dia.
Syafruddin melihat indikasi keuangan masyarakat kelas menengah tertekan, meski tidak seluruhnya mengalaminya. BPS mencatat kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup 66,35% penduduk pada 2024 dan menyumbang 81,49% konsumsi masyarakat.
"Masalah utamanya adalah penyusutan discretionary income setelah kebutuhan pokok, cicilan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan dibayar. Karena bobotnya besar, tekanan kecil pada kelompok ini cepat terasa pada ekonomi," beber dia.
Tekanan finansial dari belanja bahan pangan dan pembiayaan naik, keluarga cenderung mengurangi pos-pos lainnya. Misalnya, pos rekreasi, pakaian, elektronik, dan konsumsi sejenis lainnya.
"Mereka belum tentu miskin, tetapi buffer finansial menurun. Gejalanya adalah konsumsi yang semakin defensif, tabungan darurat lebih diutamakan, dan keputusan pembelian besar ditunda. Jadi problem kelas menengah saat ini lebih tepat disebut compression of financial space daripada kemiskinan baru," jelas dia.
Perubahan pola konsumsi 'hidup frugal' tadi nyatanya bukan hanya berdampak dirasakan kelompok kelas menengah. Syafruddin melihat adanya potensi berdampak ke pertumbuhan ekonomi.
Pengereman belanja yang dilakukan kelas menengah bisa berdampak langsung ke pergerakan pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, kelompok ini memiliki porsi terbesar.
"Jika penghematan meluas, dampaknya langsung mengenai mesin terbesar pertumbuhan Indonesia: konsumsi rumah tangga," katanya.
Dia mencatat, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 5,06% yoy pada kuartal II-2026, tetapi pertumbuhan makanan hanya 4,25% dan pakaian 3,52%. Dengan asumsi rumah tangga terus menekan pengeluaran non-esensial, omzet ritel, restoran, transportasi, properti, kendaraan, dan barang tahan lama akan melemah. Perusahaan kemudian menahan produksi, investasi, dan perekrutan.
"Keputusan hemat yang rasional bagi satu rumah tangga dapat menekan permintaan agregat bila dilakukan secara massal. Solusinya bukan mendorong konsumsi secara artifisial, tetapi memperkuat upah riil, produktivitas, pekerjaan formal, dan stabilitas harga pangan," beber dia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6