Teheran -
Otoritas Iran mengakui telah menerima surat dari Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance, namun belum memberikan tanggapan. Apa sebenarnya isi surat tersebut?
"Iran telah menerima surat tersebut, tetapi belum menanggapinya," demikian dilaporkan media pemerintah Iran, Tasnim News Agency, seperti dilansir AFP, Jumat (30/10/2026).
Kantor berita Iran lainnya, Fars, menyampaikan informasi serupa, dengan mengutip sumber yang disebut mengetahui persoalan tersebut.
Laporan media-media pemerintah Iran itu tidak menyebutkan lebih lanjut isi surat Vance tersebut.
Namun media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), sebelumnya melaporkan bahwa Vance telah melakukan kontak dengan Iran, melalui sebuah surat yang dikirimkan kepada Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei.
Langkah tersebut, menurut salah satu sumber yang dikutip WSJ dalam laporannya, dilakukan atas arahan Presiden AS Donald Trump, sebagai upaya menghidupkan kembali negosiasi damai antara kedua negara dan mencegah serangan baru AS terhadap Iran.
Disebutkan oleh WSJ dalam laporannya bahwa surat tersebut, beserta pembicaraan lanjutan antara pejabat AS dan Iran, berfokus pada kemungkinan kerangka kerja untuk negosiasi, bukan pada ketentuan spesifik untuk sebuah kesepakatan damai.
Perang yang dikobarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, telah sangat mengganggu pengiriman pasokan energi dari negara-negara Teluk, yang memicu dampak buruk bagi ekonomi global.
Sejak perang berkecamuk, Iran memblokade Selat Hormuz, jalur perairan vital yang sebelumnya dilalui seperlima pasokan minyak dan gas global. Teheran membatasi akses pelayaran dan kerap menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas tanpa izin mereka.
Sebagai balasan, AS menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan tujuan menekan perekonomian negara tersebut.
Informasi terbaru mengenai kontak antara Washington dan Teheran itu muncul di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri perang, yang sejauh ini belum membuahkan kesepakatan yang langgeng dan justru mengalami kebuntuan beberapa waktu terakhir.
Pada Rabu (28/10), Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Aragchi mengatakan bahwa Iran sedang mendiskusikan sebuah rencana, dengan para mediator seperti Qatar dan Pakistan, untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Teheran bersikeras agar Washington memenuhi tujuh syarat yang mereka tetapkan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump sebelumnya telah menolak persyaratan yang diajukan Iran pada September lalu.
Persyaratan yang dimaksud mencakup gencatan senjata di seluruh front di Timur Tengah, termasuk Lebanon, kemudian pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri, penghapusan sanksi terhadap sektor minyak, dan diakhirinya blokade angkatan laut AS.
(nvc/idh)