Tepi Barat -
Pada hari Minggu (25/10), militer Israel mengatakan bahwa semua jalur penyeberangan darat antara Israel dan Tepi Barat akan ditutup selama pemilihan parlemen pada hari Selasa (27/10).
Lanjutkan dari posisi terakhir
Militer Israel menyatakan bahwa semua jalur perbatasan darat antara Israel dan Tepi Barat yang diduduki ditutup selama pemilu Selasa (27/10).
Tepi Barat -
Pada hari Minggu (25/10), militer Israel mengatakan bahwa semua jalur penyeberangan darat antara Israel dan Tepi Barat akan ditutup selama pemilihan parlemen pada hari Selasa (27/10).
Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) mengatakan bahwa, mulai hari Minggu (25/10), warga Palestina "tidak akan diizinkan memasuki komunitas-komunitas Israel di Yudea dan Samaria serta Lembah Yordan untuk bekerja"—dengan menggunakan istilah yang digunakan oleh banyak orang di Israel untuk merujuk pada wilayah-wilayah pendudukan di Tepi Barat.
Militer menambahkan bahwa mereka akan memberlakukan "larangan masuk dan keluar bagi para pekerja Palestina … serta penutupan semua jalur penyeberangan darat sepanjang pemilu" pada tanggal 27 Oktober 2026.
Pengumuman tersebut disampaikan di tengah operasi militer Israel yang masih berlangsung di Tepi Barat, menyusul serangan mematikan yang dilakukan oleh orang-orang bersenjata Palestina di dekat Kota Hebron pada hari Jumat (23/10).
Menurut IDF, dua tentara Israel tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan tersebut. IDF juga mengatakan bahwa kedua orang yang diduga sebagai pelaku serangan itu turut tewas.
Kelompok militan Palestina, Hamas, menyambut baik serangan tersebut, tetapi tidak mengaku bertanggung jawab atas pelaksanaannya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji untuk memberikan hukuman berat atas serangan tersebut, yang terjadi hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara, ketika ia menghadapi persaingan ketat untuk mengamankan masa jabatan baru.
Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah beroperasi di 40 wilayah di seluruh Tepi Barat pada hari Jumat (23/10) dan Sabtu (24/10). Sementara itu, warga setempat melaporkan bahwa para tentara mengumumkan perintah evakuasi melalui pengeras suara pada larut malam.
Pasukan Israel mengatakan bahwa mereka telah "menangkap sekitar 40 orang yang dicurigai, termasuk para teroris yang berafiliasi dengan organisasi teroris Hamas dan Jihad Islam."
Wali Kota Hebron, Yousef al-Jabari, mengatakan kepada stasiun penyiaran Al Jazeera bahwa sekitar 2.200 orang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak serangan-serangan Israel dimulai pada hari Jumat (23/10).
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membenarkan angka tersebut. Kepada stasiun penyiaran Israel Kan, ia mengatakan bahwa "unit-unit militer tertentu saat ini sedang beroperasi di sana" dan bahwa warga Palestina "tidak akan diizinkan untuk kembali … sampai kami selesai menangani semua persoalan Hamas di Hebron."
Menteri Keuangan Israel yang berhaluan kanan jauh, Bezalel Smotrich, yang juga memegang jabatan di kementerian pertahanan dengan tanggung jawab mengawasi urusan sipil di Tepi Barat, mengatakan bahwa ia secara pribadi telah memerintahkan "pembongkaran segera terhadap deretan bangunan ilegal" di wilayah tersebut setelah penembakan pada hari Jumat (23/10).
"Siapa pun yang macam-macam dengan kami akan segera memahami bahwa dia akan membayar harga yang menyakitkan," tulisnya di media sosial.
Di kawasan Ein Deir Baha, Hebron, bangunan-bangunan yang telah dikosongkan ditandai dengan tanda silang berbentuk huruf X, sementara jalan-jalan tampak sepi, kecuali beberapa kendaraan militer Israel. Demikian dilaporkan oleh kantor berita AFP, yang menambahkan bahwa bendera-bendera Israel telah dibentangkan di sebuah rumah yang tampaknya telah diambil alih oleh pasukan.
Higazi Shawer al-Tamimi, 70 tahun, seorang pemilik toko yang memiliki peran penting di kawasan tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa ia terbangun pada pukul 1 dini hari karena para tentara yang mengatakan bahwa ia harus pergi dan hanya memberinya sedikit waktu untuk berkemas.
Ia menambahkan bahwa bagi warga lainnya, meninggalkan kawasan tersebut jauh lebih sulit. "Ibu mertua saya, yang berusia 90 tahun dan tinggal di daerah itu, harus digotong keluar karena ia sedang sakit," katanya.
Netanyahu merupakan perdana menteri Israel yang paling lama menjabat, tetapi reputasinya yang mengutamakan keamanan telah hancur akibat serangan mematikan yang dilancarkan para militan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel. Serangan tersebut memicu invasi Israel ke Gaza, yang telah menyebabkan lebih dari 73.000 warga Palestina tewas, banyak di antaranya merupakan warga sipil.
Serangan pada hari Jumat (23/10), tidak akan banyak membantu memulihkan reputasi Netanyahu dalam hal keamanan. Ia berjanji bahwa tanggapan yang telah dilakukan sejauh ini akan diikuti oleh operasi dalam skala yang belum pernah terlihat sejak Israel pertama kali menduduki Tepi Barat pada tahun 1967.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
(nvc/nvc)
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.