Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Titik Api Way Kambas Padam, Lokasi 14 Km dari Pusat Latihan Gajah

BPBD Lampung menyatakan titik karhutla yang ditangani di TN Way Kambas telah padam dan berjarak 14 kilometer dari Pusat Latihan Gajah. Pemadaman di titik lain masih berlanjut.

Liputan 6 3 menit baca 0 komentar
Titik Api Way Kambas Padam, Lokasi 14 Km dari Pusat Latihan Gajah
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung memastikan titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, yang ditangani pada 24–25 Oktober 2026 telah padam.

Lokasi kebakaran tersebut berjarak sekitar 14 kilometer dari Pusat Latihan Gajah (PLG).

Kepala BPBD Provinsi Lampung Aswarodi mengatakan api berhasil dipadamkan pada Minggu (25/10/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Tim gabungan kemudian melakukan penyisiran dan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

“Tim gabungan telah melakukan proses mop-up, penyisiran, serta pemantauan menggunakan drone untuk memastikan kondisi di lokasi benar-benar padam dan tidak ada lagi indikasi titik asap,” kata Aswarodi, Senin (26/10/2026).

Aswarodi menjelaskan, berdasarkan koordinasi BPBD dengan Balai TNWK, titik kebakaran yang ramai diberitakan bukan berada di area Pusat Latihan Gajah. Ia juga menyebut tidak ditemukan titik panas di sekitar kandang gajah berdasarkan pemantauan selama satu minggu terakhir.

"Kami memastikan tidak ditemukan titik panas (hotspot) di sekitar kandang gajah berdasarkan pemantauan selama satu minggu terakhir," ungkapnya.

Titik kebakaran tersebut berada di wilayah Rawajaro, Sedeng Kerep, dan Umbul Resort Susukan Baru, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Way Kanan, Desa Rantau Jaya Udik II, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur. Lokasi itu berbatasan dengan areal PT GGP PG 4 dan masih termasuk kawasan TNWK.

Menurut Aswarodi, api mudah menjalar karena vegetasi berupa alang-alang dan semak belukar mengering, ditambah tiupan angin kencang. Petugas TNWK, personel TNI, serta mitra Aliansi Lestari Rimba Terpadu melakukan pemadaman sejak Sabtu hingga Minggu.

Upaya pemadaman turut didukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Pemerintah Provinsi Lampung. Pada Minggu (25/10/2026), dilakukan penyemaian 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl) di wilayah yang mencakup kawasan TNWK. Hujan deras yang turun sekitar dua jam membantu proses pendinginan lahan.

Meski titik tersebut telah padam, Aswarodi mengatakan penanganan karhutla di sejumlah lokasi lain di TNWK masih menghadapi kendala. Medan yang sulit dijangkau, keterbatasan distribusi air, serta vegetasi rapat menyulitkan proses pemadaman. Di kawasan bergambut, bara di bawah permukaan tanah juga berpotensi menyala kembali.

"Kendala di lapangan antara lain air yang dijatuhkan dari udara tidak selalu langsung mencapai permukaan lahan karena tertahan tumpukan daun dan vegetasi yang rapat. Pada kawasan bergambut, bara api yang berada di bawah permukaan tanah juga membutuhkan penanganan khusus agar tidak kembali menyala," terangnya.

Tim satgas darat dan udara masih melakukan penanganan di titik kebakaran lainnya, termasuk dengan dukungan helikopter water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca. Petugas juga menerapkan pergantian tugas serta menyiapkan pemeriksaan kesehatan dan dukungan tenaga medis untuk menjaga keselamatan personel.

Kebakaran Sempat Meluas

Sebelumnya, warga Desa Muara Jaya, salah satu desa penyangga TNWK, Sukiman, menyebut kebakaran sempat meluas dari kawasan Rawa Bunder hingga Mentru Kembar. Ia memperkirakan lahan yang terdampak mencapai sekitar 100 hektare.

“Kurang lebih sekitar 100-an hektare,” kata Sukiman, Minggu (25/10/2026).

Sukiman mengatakan kobaran api sempat mendekati pagar pembatas gajah sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan satwa liar. Ia menduga gajah bergerak menjauh untuk mencari sumber air karena kondisi hutan yang kering.

“Untuk sementara ini, kemungkinan gajah minggir mencari titik air, karena memang di dalam itu sangat kering dan tidak ada air,” tuturnya.

Aswarodi mengimbau masyarakat mengacu pada informasi resmi dan segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran baru di sekitar kawasan hutan dan lahan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.